Posted by: uniqmanusia on: Juni 16, 2009
Ntahlah…keedanan temen-temen Fisika tepatnya angkatan 2006 kumat lagi. Mungkin ini efek dari shok terapi yang kami terima beberapa hari yang lalu. Yang kemudian dilanjutkan dengan jadwal presentasi…Biasalah, shok terapi pada saat-saat kuliah, ujian yang tepatnya UAS.
Keedanan Kami bersamaan dengan diresmikannnya jembatan nasional Suramadu-Surabaya Madura (Bukan Surabaya-Madiun lho yach)…Sehingga tak pelak pula, kami pun untuk memutuskan trip keedanan kami untuk menelusuri Jembatan Suramadu. Apalagi,sebelumnya kami telah di iming-imingngi video amatiran dari sebuah perjalanan segerombolan anak manusia tak bertuan di angkatan kami yang telah lebih dahulu melakukannya, yakni Komteng, Iwan, Dias dan Nailul(Nailul Fis 07).
Dan setelah cukup lama berunding serta bernegosiasi untuk meloba-lobi siapa saja para narapidana yang akan mengikuti perjalan ini. Kami pun memutuskan untuk kumpul di basecamp lama, yakni parkiran MIPA (basecamp sebelum pengkaderan 422 dimulai saat pagi harinya pada tahun 2006 silam). Yach…Yach…Yach…seperti biasa, namanya juga Indinesia, jam karet pun berlaku untuk kami. Awalnya kami sepakat kumpul jam 09.00 WITS. Tapi kami baru kumpul dan siap melanjutkan perjalanan keedanan kami tepat pukul 10.11 WIB.
Rute perjalanan kami dimulai saat kami keluar dari pintu utama Kampus Perjuangan (Baca: ITS CAK) kemudian menelusuri setapak demi setapak jalan Mulyosari hingga daerah Kenjeran, yang juga base Pertama yang kami singgahi saat trip edan ini. Tapi namanya juga trip edan, padahal sebelumnya udah dikomando untuk lewat Mulyosari tapi tetep aja ada yang buandel tidak patuh ma komandan, ada yang menyalahi aturan trip hingga mereka tiba terlebih dahulu di pintu masuk Suramadu untuk arah Surabaya. (Biarlah mereka menunggu disana hingga kedatangan narapidana yang patuh ma komandan pun tiba…Wk…wk…wk…).
Setelah para narapidana komplit di base pertama, kami pun melanjutkan trip edan ini dengan menelusuri jalan tikus yang ada untuk sampai ke tujuan utama kami yakni Suramadu. Tak kurang tiga puluh menit kami pun telah tiba di pintu utama Suramadu. Busyettt….Uantreeee!!! (Itulah kalimat pertama yang keluar dari mayoritas para narapidana trip edan ini).
Namanya juga trip edan, tak peduli halangan serta rintangan yang membentang, kami pun terus melaju. Di sela-sela kemacetan yang menggila yang juga berpayung terik sinar matahari, kami pun enjoy aja untuk melakukannya. Padahal saya tahu, di relung hati mereka yang tak bisa berbohong akan berkata: Puanas Rekk!!! G kuat nich… (Bener khan kawan???).
Dan untuk menghilangkan kejenuhan itu, maka bayolan konyol pun tercipta seakan mengingatkan masa lalu…
“Khan udah biasa di PP pas waktu pengkaderan, jadi ilmunya mesti diterapin hari ini yach???” ucap si Duduts yang juga selalu di sumbangi dengan tawanya yang cengengesan.
Dan bagi para narapidana lain yang turut mendengarkan hanya tertawa kecut karena menahan terik matahari yang sudah menggosongi kulit kami. (Saya yakin, sebenarnya mereka ingin tertawa lepas, karena kelucuan dari ocehan si Duduts tapi apa daya, terik sang mentari seakan membuat masam raut muka dari setiap narapidana, bener khan???)
(Duduts jangan kecewa yach….)
Hhhhhh….Waktu terus berputar, terik matahari pun terus meninggi yang sebanding dengan tingginya suhu udara yang kami rasakan waktu itu. Peluh dan keringat dari setiap narapidana pun terus menetes membasahi seluruh raga. Polusi udara pun turut masuk ke saluran pernafasan kami bersama dengan sisa-sisa oksigen yang dapat kami hirup waktu itu. Tapi motor kami tak dapat melaju kencang lagi, bahkan kecepatannya pun dapat terkalahkan oleh larian anak kecil, karena padatnya kendaraan roda dua yang saling berdesakan di jalur yang kami lalui. 5 menit telah berlalu, kami hanya bisa bergerak setengah meter dari posisi semula. Begitu pula yang kami rasakan di menit-menit selanjutanya.
Kami para narapidana seakan lelah, patah arang sebelum berjuang menaklukkan jembatan yang hanya berjarak 5.4 Km ini. Tapi itu juga yang dirasakan oleh pengendara yang lain. Hingga dua narapidana kami harus gugur karena tak sanggup bertahan di medan perang untuk menaklukkan Jembatan Suramadu, Yakni Hamidhah dan Aberta…tapi tak selang cukup lama setelah Hamidhah dan Aberta mundur, keganasan tiap pengendara telah dimulai, mereka tak tahan lagi untuk bersabar di tengah terik matahari. Hingga para pengendara itu saling gotong royong mengangkati motor mereka ke lajur tengah…(Busyett dah,,,,nich orang nekat banget yach??)
Dan dengan keganasan itu pula, kemacetan pun sedikit berkurang, dan kami para narapidana dapat menikmati hasilnya. Motor kami dapat melaju dengan kencang kembali, walau tak sekencang angin tornado. tapi syukur alhamdulillah daripada harus berjalan merayap seperti sebelumnya.
Setiap narapidana pun seakan tersihir, melihat hasil peradaban karya manusia di abad ke 21 karena telah berhasil menciptakan maha karya yang telah menguhubungkan dua pulau pada bentang selat yang boleh dikatakan panjang. Keren!!! Ko bisa yach mereka bangun seperti ini???? SubhanAllah…Itulah sedikit cuplikan yang terlontar dari rongga mulut para narapidana di tenga-tengah perjalan yang juga tak pernah lepas berpayung panasnya sinar matahari…
Hingga tanpa mereka sadari bahwa diri dari setiap narapidana telah menapaki bumi garam, yakni Pulau Madura. Motor kami pun terus melaju, walaupun sesekali kami berhenti untuk mencari Base kedua yang nyaman namun tak kunjung bersua. Ratusan bahkan ribuan meter telah dilalui, pemandangan yang kami temui hanya berua bukit tandus dan pematang sawah bahkan ada pula yang tak lagi terawat.
Yups…
Diri ini pun mulai menerima setiap keluhan yang terlontar dari setiap narapidana, diantaranya
“Madura ko panasnya???” ucap Phepeb
“Madura gersang yach???” keluh Lely-Lala
dan tak mau ketinggalan Si Janda pun turut berucap
“Berapa kilometer lagi, kita bisa menemukan peradaban lagi???( Janda ingat, kamu berarti masih punya janji mentraktrir roham lho!!!)
Khan Rohma yang menang tebak-tebakannya….Whahahaha)
“Tibak no Madura seperti ini yach?” tandas Si Guffi…
Terserahlah apa kata mereka…Tapi memang beginilah keadaannya…Walau daerah dengan segala keterbatasannya tapi tetap saja dilirik untuk dikembangkan karena memikili poetensi yang baik…(katanya sich begitu, bener ato nggak..ntahlah)
tapi menurut diri ini, Pulau ini tetap terbaik karena pulau ini yang selalu membuat diri ini rindu, rindu untuk pulang bersua dengan sanak keluarga….
Ok,…
kembali ke cerita trip edan…Perjalan terus berlanjut hingga kami menemukan base kedua yakni di daerah Burneh, tepatnya di sebuah mesjid. Walaupun kami menamakan perjalanan edan, tapi kami tidak ingin menanggalkan kewajiban kami, yakni menunaikan sholat. Tak hanya itu kami juga rehat sejenak menghilangkan dahaga dan juga lelah. Tapi dahaga dan juga rasa lapar yang kami alami belum terobati . Padahal ilmu waktu pengkaderan telah kami terapkan yakni dengan berbagi tiga mangkok bakso ditambah dengan 2 liter air mineral sebagai obatnya untuk 18 narapidana yang tersisa. (Melas banget yach perjalanan ini…Tapi saya rasa setiap narapidana merasakan bahagia karena yang kami inginkan hanya kebersamaan).
Cacing-cacing terus saja meronta, dahaga terus saja menyiksa hingga kering terasa tenggorakan ini. HIngga kami pun memutuskan untuk mencari obat penenang untuk cacing-cacing yang telah memberontak sejak pagi tadi. Mungkin karena nama yang telah kami nobatkan dalan perjalan kali ini, keedan selanjutnya tak ada warung yang dapat menyediakan makanan untuk ke delapan belas narapidana. Karena persediaan mereka telah habis dibeli orang lain. Hingga kami pun bertahan dengan tenaga yang tersisa untuk kembali ke realita, yakni kampus perjuangan.
(Padahal kalo mau nyari ke daerah bangkalan masih ada makanan kok kawan, tapi kalian masihn keukeuh untuk mancari daerah burneh sich…)
Rute yang kami tempuh tetap sama, tapi kami tak lagi berjalan beriringan bersama lagi. Selain terjebak dalam lingkaran kemacetan yang melanda di jembatan Suramadu. Beberapa narapidana yang lain harus mengisi bensin terlebih dahulu (baca: makan+minum).
(padahal kata si Duduts: Kita jangan sampe jatuh di lubang yang sama (baca: terjebak macet lagi), nyatanya kita terjebak lagi) yach seperti biasa, prediksi si duduts lagi untuk ke sekian kalinya meleset…
Setelah menginjakkan kaki kembali di kota perjuangan (baca:Surabaya). Kami perpendar, ada yang pulang terlebih dahulu, adapula yang bertandang sejenak ke rumah seorang kawan hingga kemudian melanjutkan perjalannannya kembali hingga tiba ke kampus perjuangan.
NAMA” NARAPIDANA YANG IKUT TRIP EDAN :
1. Ketua Buron: Medi Andrias Maja
2. Tangan kanan Ketua : Achmad Mirwan H
3. Gengster Cowok: Joko Nugroho
Kurriawan Budhi P
Rian Budhi
Dian Mart S
Ahmad Hijazi
Moh. Herman Eko S
Adi Kurniayan Y
Mohammad Gufron
4. Gengster Cewek: Febie Angelia P
Eri Sri Palupi
Machida Nurul Cholishoh
Nurul Amalia S
Aisha Mei H
Nanda Tri K
Rahardiyanti C
Wahyu A
Anggi Anggraeni
Henyk NW
Nany Lailil I
Anggrek Angraini
Mee….
Posted by: uniqmanusia on: Juni 16, 2009
Dua sisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Ya, antara Cinta dengan Persahabatan.
Mampukah anda membayangkan Persahabatan tanpa Cinta?
Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik kerana dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.Pada suatu hari, Persahabatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik daripada dirinya.
?Hhem mm mm? Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku.? pikir si Persahabatan. Sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan seperti selalu, Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta.
Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat termangu memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian.
Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai.Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan.Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan.
Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta.
Dipendekkan cerita, Persahabatan dan Cinta kembali menjadi teman baik. Persahabatan kembali kepada pribadi yang menyenangkan dan Cinta pun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan anugerah dalam kehidupan.
Moral:
Mampukah Persahabatan tanpa Cinta?
Mampukah Cinta tanpa Persahabatan?
Sering kali ditemui banyak orang yang coba memisahkan Persahabatan dan Cinta karena mereka berfikir, ?Kalau Persahabatan sudah disulami dengan Cinta, pasti akan jadi sulit!?. Terutama bagi mereka yang menjalin persahabatan antara seorang pria dan wanita.
Persahabatan merupakan bentuk hubungan yang indah antara manusia, di mana Cinta hadir untuk memberikan senyumnya dan mewarnai Persahabatan. Tanpa Cinta, Persahabatan mungkin akan diisi dengan Kecewa, Benci, Marah dan berbagai hal yang membuat Persahabatan tidak lagi indah. Berhentilah membuat batas antara Cinta dan Persahabatan, biarkan mereka tetap menjadi Teman baik. Yang harus diluruskan adalah Cinta bukanlah perusak Persahabatan, Cinta memperindah persahabatan anda.
Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. SALAH BESAR !!! Seharusnya dengan adanya Cinta, persahabatan akan semakin menyenangkan. Buat teman-teman yang sedang menjalin Persahabatan. Penuhilah persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu.
Buat teman-teman yang sedang mengalami guncangan dalam persahabatan, jangan salahkan Cinta! Tetapi cobalah perbaiki persahabatanmu dengan cinta karena cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Buat teman-teman yang belum mengerti arti Persahabatan, cobalah memulai sebuah persahabatan. Dengan persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.
Buat teman-teman yang sedang kecewa dengan Persahabatan. Renungkanlah;?
Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar??
Dan cobalah memahami arti persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kematangan, kelemahlembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam persahabatan.
Note : Dari seorang teman yang jauh di sana….
Posted by: uniqmanusia on: April 16, 2009
dan…kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~
(Paulo Coelho dalam novel “Di Tepi Sungai Piedra”)
Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, biasanya mereka tidak akan terjebak dalam pola berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Dalam kehidupan nyata juga berpeluang besar punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.
Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,
1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, dalam level praktis keseharian, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Disisi lain, seorang pembaca juga akan melakukan pembelajaran yang sama. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan “Oooo buku ini begini…. begitu” setelah membaca karya resensi.
3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi tetap bisa mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.
4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.
5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.
Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;
A. Tahap Persiapan
1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus. Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Tidak berarti membatasi atau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.
2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan hanya sekedar untuk berbagi ilmu, bukan untuk mendapatkan honor) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).
3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;
Judul Karya Resensi
Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :
B. Tahap Pengerjaan
1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.
2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;
• Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).
• Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”.
• Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.
C. Tahap Publikasi
1. Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.
2. Menyertakan cover halaman depan buku.
3. Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.
Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Posted by: uniqmanusia on: April 16, 2009
Usia perempuan itu tak lagi muda, bahkan telah melewati dari sepertiga abad. Namun cinta dan kasih sayang yang ia curahkan tak pernah berubah. Telah ratusan hingga ribuan hari telah ia lalui, namun jemari itu seakan tak mengenal lelah, mengusap kepala sang buah hati manakala akan mengantarkannya ke alam mimpi. Tak hanya itu badannya yang telah rapuh di makan usia, tak henti-heninya memberikan kehangatan walau cuma sebuah dekapan kasih sayang.
”Nyenyakkanlah tidur kalian malam ini. Biar dirimu kuat esok hari,”
”Kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari,”
”Untuk itu, mintahlah kalian dalam doa Sang Ilahi Rabbi untuk diberi kekuatan di esok harinya,” Pengantar tidur yang tak pernah lupa disampaikan perempuan paruh baya itu untuk ketiga buah hatinya Ahmad, Rini serta si Ami si bungsu pada tiap malamnya.
”Iya, Bunda,” sahut Rini dan Ami. Maka serta merta pula bibir mungil kedua bocah pun melantunkan doa tidur. Sedangkan Ahmad, putra sulungnya sudah terlelap terlebih dahulu.
Setelah merasa yakin bahwa ketiga buah hatinya tertidur pulas dalam balutan hangat doa dan mimpi yang menemani. Perempuan kelahiran Pulau Garam ini, perlahan-lahan mulai melangkah pergi hingga kakinya pun terhenti pada sebuah meja di salah satu sudut rumahnya. Setelah lama terpaku diam dan cukup lama berdiri, ia sandarkan badannya pada sebuah kursi tua yang tak berada jauh dari meja makan itu.
Lama perempuan itu mematung bahkan tanpa disadari, air mata Tutik, Ibu dari Ahmad, Rini dan Ami terjatuh membasahi keduanya pipinya yang telah keriput dimakan usia. Pikiran Ibu dari ketiga anak itu pun semakin kalut, tak kuasa menahan badai masalah yang menghujani dirinya tiada henti. Di tengah pasang surutnya perekonomian rumah tangga yang Tutik bangun bersama pria yang dipilihnya untuk dijadikan sandaran hidup berbagi keluh kesah, pergi meninggalkan dirinya dan ketiga permata hatinya. Disisi lain, keluarga besar Tutik menuntut rumah tangga yang dibina bersama Mohammad Idris suaminya, harus sederajat dengan sanak family yang telah mapan perekonomiannya.
Walau malam tak lagi bersahabat, karena dinginnya udara semakin menusuk rusuk tulang akan tetapi pikiran perempuan itu terus berkelana, mengira-ngira keberadaan sang imamnya kini. Karena disaat seperti ini, Tutik sangat membutuhkan imamnya untuk mendampingi dirinya menghadapi ujian hidup.
”Masih ingatkah, dirimu Mas dengan ketiga cinta kita,”
“Tak hanya aku yang merindukanmu, mereka juga sering menanyakan keberadaanmu,”
”Bukan hanya materi yang mereka butuhkan, tapi nafkah batiniyah yang seharsnya kamu penuhi pada mereka,”teriak Tutik dalam hatinya.
Sudah kesekian kalinya, kalimat itu terlontar dari bibir merah Tutik, di setiap malam – malamnya tak terkecuali malam ini. Serentetan kalimat yang mewakili kerisauan hatinya. Tak kuasa menahan, hingga air mata yang menjadi obat pelipur lara pun semakin deras mengalir. Batinnya terluka, begitu pula raganya, jenuh memikirkan kondisi rumah tangganya. Lamunan Tutik pun serta merta mengantarkannya untuk mengingatkan kembali akan kata – kata yang dilontarkan suaminya, Idris. Sesaat sebelum lelaki berkulit sawo matang itu benar – benar pergi mengikuti nafsu duniawinya.
”Aku akan buktikan pada keluarga besarmu, bahwa kita juga bisa hidup layak seperti yang lain. Apapun caranya,” ucap pria asal Kota Pahlawan itu.
”Termasuk berjudi?”
”Istighfar Mas, jangan sampai dirimu melangkah di jalan yang tidak diridhai Ilahi,”
”Tegakah dirimu, menafkahi anak dan istrimu dengan barang yang haram?” tanya tutik, seraya mengingatkan sang imam bahwa dirinya telah keliru mengambil jalan.
”Sudahlah, tahu apa dirimu tentang semua itu,”
”Yang terpenting segala kebutuhanmu, sudah aku penuhi,”
”Jaga anak – anak dengan baik, aku pergi dulu,” sanggah pria yang kini telah genap berkepala lima.
Terasa sesak dada Tutik, serasa ada ribuan jarum yang menghujani tubuhnya kala itu. Hatinya sakit, kecewa, sedih, marah, luka, terhina serta ribuan kata kesedihan bersemayam didalamnya. Tutik merasa lelaki yang dicintainya telah berubah 180 derajat. Semasa muda lelaki asal Jawa itu, termasuk remaja yang taat terhadap agama. Perangai dan perilakunya pun tak lepas dari Al Quran dan As Sunnah. Karena itu pulalah, yang menjadi alasan Tutik menerima pinangan Mohammad Idris, yang kini telah menjadi imamnya.
”Aku kira dengan perangai dan lelakumu yang taat pada agama sewaktu dulu, dapat mengantarkanku untuk membina keluarga yang sakinah.
”Ternyata aku salah menilaimu. Justru dirimulah yang menyeret diri ini ke lembah jahanamnya neraka dengan perilakumu yang selalu saja bertentangan dengan agama,”
Mengingat akan hal itu, Tutik merasa dirinya menjadi perempuan yang bodoh, karena selama ini dirinya tertipu dengan perangai dan lelaku suaminya. Tutik pun tak kuasa menahan isak tangisnya. Buliran air mata terus saja keluar dari sendu matanya. Walau tak cukup keras, desah tangis Tutik terdengar. Namun hal itu sudah cukup menggangu, tenangnya malam lengkap dengan sinar gemintang dan rembulan yang dapat menenangkan hati setiap insan malam itu. Seakan terusik, hingga si Ami, permata hatinya yang ketiga terjaga dari tidurnya yang lelap.
”Ibu napa nangis?” tanya si bungsu sembari menggosok matanya.
”Ngga apa ko Dhe’,”
”Ibu hanya kelilipan, sama seperti Adhe’ waktu kelilipan debu,”
”Adhe’ pasti nangis juga khan menahan perih?”
”Sekarang Adhe’ tidur lagi yah?,” jawab tutik berkilah.
Tanpa perlu diminta lagi, Tutik pun mengantarkan putri bungsunya keperaduan mimpi untuk kedua kalinya di malam yang sama. Dan ketika Tutik merasa yakin permata hatinya telah terlelap dalam tidurnya lagi. Tutik pun beranjak pergi menuju kamar mandi. Tutik merasa tak ada lagi tempat peraduan untuk mengadukan segala derita diri, selain kepada Sang Ilahi Rabbi.
Pikiran Tutik semakin kalut, dadanya pun seakan mau pecah tak sanggup menahan gemuruh masalah yang dihadapinya. Hingga Tutik pun membasahi dirinya dengan balutan suci air wudhu, guna mendirikan Shalat Malam yang selalu menjadi pelabuhan terakhirnya untuk mengadukan segala pergemulan masalah yang dihadapinya kepada Sang ilahi Rabbi.
Bukan harta yang melimpah, bukan juga rumah mewah besertakan perabotan lux’s yang Tutik panjatkan dalam doa disetiap sepertiga penghujung malam setiap harinya.
Melainkan sebuah doa agar Sang Imam, Idris suaminya kembali. Kembali menjadi seorang lelaki yang segala tindak tanduk lelakunya bertumpu lagi pada Al Quran dan As Sunnah. Dan dapat lagi memimpin keluarga tuk menjadikannya keluarga yang sakinah.
Tanpa disadari, suara Adzan Shubuh pun berkumandang, bersamaan dengan selesainya perniagaan yang Tutik minta kepada Sang Khaliq, untuk dijadikan sebagai obat penyejuk di hati. Lalu sesat setelah suara iqomah terdengar, Tutik pun segera mendirikan lagi shalat shubuh dua rakaat, sebagai permulaan harinya. Rutinitas yang sama pun masih dilakoninya. Seakan tak ada badai yang telah memporak-porandakan hidupnya.
“Ahmad, Rini, Ami bangun sayang,”
“Sudah shubuh, saatnya kalian bangun,”
Masih dengan sempoyongan Ahmad dan Rini mulai terbangun pergi meninggalkan bantal guling kesayangan mereka, demi bergegas menunaikan shalat Shubuh. Begitu pula dengan Ami walau belum ada kewajiban untuk dirinya menegakkan rukun islam yang kedua, tapi bocah lima tahun itu turut pula terjaga. Nampaknya, hari itu 12 Rabiul Awal, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Tutik dan ketiga buah hatinya masih melakukan hal yang sama dengan hari – hari sebelumnya. Ahmad dan Rini pergi ke sekolah dan Tutik selalu setia berada di rumah menyelesaikan kewajibannya sebagai Ibu rumah tangga sembari menunggu kepulangan, Idris suaminya.
Namun ada sesuatu yang berbeda, telepon rumah yang sudah jarang lagi berbunyi. Hari itu terdengar nada deringnya, menandakan ada panggilan telepon yang masuk. Sesegera pula, Tutik pergi menuju ruang tamu untuk menjawab panggilan telepon.
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara lelaki dari seberang, yang berusaha tegar menutupi kesedihannnya.
“Walaikummussalam Warahmah, maaf ini dengan siapa saya berbicara,” balas Tutik yang turut gusar menerima telpon.
“Saya Mustofa, salah seorang teman Idris suami Anda,” jawab pria itu.
Belum selesai Idris menyelesaikan kalimatnya, Tutik pun langsung menyela menanyakan tentang suaminya. Firasatnya sebagai seorang istri mulai gelisah merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa imamnya.
“Ada apa dengan suami saya,” tanya Tutik cepat.
”Innalillahi wainna ilaihirajiuun, suami Anda, Idris telah berpulang ke haribaan Sang Ilahi. Kepalanya terbentur trotoar karena kecelakaan motor dan mengalami pendarahan otak cukup parah,”
”Pihak rumah sakit, sudah berusaha semampunya. Namun rencana Tuhan berbeda. Sekarang, jenazah berada di RSUD Pelita Harapan. Saya harap anda bersabar dan meneima cobaan ini dengan ikhlas,”
Cukup panjang Mustofa menjelaskan keadaan Idris, namun otak Tutik pun sanggup lagi merespon telepon Mustofa dari seberang sana. Kecuali sepenggal kalimat yang menyatakan bahwa Mohammad Idris, suaminya telah berpulang ke Rahmutullah.
Tutik pun mematung sesaat setelah menerima kabar duka tersebut. Genggam telepon dibiarkannya menjuntai ke lantai rumah. Belum sempat pula bibir mungilnya mengucapkan Innalillahi atas berpulang suaminya, namun kesedihan yang teramat mendalam telah menyelimuti dirinya saat itu. Buliran air mata kesedihan, karena ditinggal oleh sang kekasih hati tak dapat tertahankan lagi. Air mata Tutik pun tumpah ruah membasahi pipinya. Sejenak saraf otak kanannya bekerja memberi perintah untuk Tutik merenung berpikir.
“Apakah ini pertanda dikabulkannya doa yang ia panjatkan di penghujung malamnya?”
Wallahualam
Surabaya 5 April 2009
Posted by: uniqmanusia on: Maret 21, 2009
“Sinarmu memang tak menyilaukan, namun telah meluluhkan hati yang beku ini”
Mungkin memang sudah menjadi tradisi dan kodrat perempuan untuk tetap menunggu. Menunggu pangeran berkuda, yang akan membawanya mengurangi birunya lautan kehidupan. Begitulah pula yang dirasakan Lasi. Seorang perempuan yang umurnya memang tak lagi belia bahkan sudah boleh dikatakan dewasa. namun tak jua, ada kumbang yang mendekatinya walau hanya sekedar singgah untuk mengagumi keindahannya.
Bukan karena ia tak memikat karena bunga desa itu tak lagi ada di pematng sawah yang jauh dari penghisap madu. Justru kini, ia berada dikerumunan taman kumbang, dimana setiap kumbang meahlian masing-masing. tapi apa boleh dikata, pengeran berkuda bahkan sang kumbang tak jua sianggah pada muara hatinya.
“Gimana las, kapan kamu akan memeperkenalkan “teman” mu ke Tante?”
Ouwh, masih belum tante, Lasi masih sibuk dengan tugas kuliah. Jadi belum sempet mikir ke arah sana,” jawab Lasi dengan lihai, manakala keluarga besarnya meanyakan hal yang sam, di setiap pertemuan keluarganya.
Padahal sebenarnya hatinya miris, terpojokkan seakan-akan bunga desa tak jua laku. tapi menit berganti jam jam pun telah tergantikan oleh hari dan seterusnya. namun hal itu tak lagi menajdi barang mewah yang menyita banyak pikiran lagi.
Irama kehidupan terus Lasi lakoni walau tak ada pujangga yang menemani. walaupun disekelilingnya dikerumuni oleh beragam species kumbang namun benar-benar tak ada yang hinggap, hingga hembusan kabara angin terdengar.
” Las lo, pacaran yach ma zaky, deket banget sich,bener-bener soulmete,” ungkap Ingga teman akrabnya di waktu jam-jam kosong kuliah.
“Aah…ngaco kamu. lasi ma zaky cuma temen. kebetulan kami ngambil bidang yang sama di jurusan. jadi mau nggak mau tetep aja berurusan ma dia,” sanggah Lasi datar.
Memang dengan kasat mata, keduanya nampak lebih mirip menjadi sepasang kekasih daripada seorang teman. Keakraban keduanya sangat dekat. namun lagi, tak ada perekat yang mengikat keduanya melainkan sebuah pertalian persahabatan.
Tapi perempuan tetaplah perempuan. Memang sudah kodratnya, ia diciptakan dari tulang yang bengkok. Mersa nyaman jika ada tempat berlabuh, mencurahkan segala keluh kehidupan. Tersanjung karena pujian-pujian kecil, merasa nyaman karena ada yang melindungi.
Begitupula, yang dirasakan Lasi. Bak hangatnya mentari pagi. Sesosok pria berdarah jawa bernamakan Zaky seakan telah memberika aura baru. Walau hanya ada seutas tali tipis persahabatan yang mengikat keduanya. Hidup Lasi ada yang berubah, kadang ia bahagia senyum sumringah pun sering ditemui dalam rona wajahnya, namun tak jarang pula muka sembab karena telah bercucuran air mata di malam harinya karena ulah sang mentari pun sering kali didapati.
Sering pula, Lasi bertanya pada dirinya sendiri, sesering teman-teman-teman kampus yang menanyakan pertalian anatara dirinya dan Zaky. Tapi Lasi tetep keukeh dengan pendirian bahwa saat hanya ada benang tipis yang mengikatkan keduanya, yakni sebuah pertalian persahabatan. karena lagi tak ingin menjadi tupai yang jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Tapi mentari tetaplah mentari, hangatnya sinar mentari yang lembut itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang beruntung, yang selalu terjaga di pagi hari. Sekejap memang kehangatan itu terasa, namun ia menyimpan seribu bahasa kelembutan. Mentari yang menggantikan bulan yang tak lagi bercahaya karena gelapnya malam yang menyelimuti.
Walau demikian adanya, lasi tetap merasa bersyukur, walau hanya dapat bersahabat dengan Zaky, sang mentari paginya. Karena setidaknya (Lasi, Red) benar-benar tak sendiri lagi.
“Mentari pagi,
eidelwiess tetap menunggu pagi sinarmu.
walau itu hanya sekejap diri rasakan tapi itu bermakana,
diri ini pun berharap, sinar mentai itu tak menguap begitu saja, hingga diri ini tak lagi menjadi eidelwiss yang lagi sendiri”
Posted by: uniqmanusia on: Desember 29, 2008
Sekitar tahun 90an, Desa Camplong tak jauh beda dengan desa-desa yang lainnya. Desa kecil itu hanya berhunikan beberapa kelompok kecil saja. Daratannya pun masih asri, jauh dari kata polusi. Bahkan desa yang terletak berseberangan dengan pesisir pantai Camplong ini, segarnya udara masih dapat dihirup dengan bebas. Bahkan sejauh ata memandang, tak banyak yang dapat dilihat selain hamparan sawah yang menghijau dengan padi dan tanaman palawijanya.
Di desa nun kecil itu tak banyak bangunan rumah yang dapat ditemui, karena jarak antar rumah yang satu dengan yang lainnya saling berjejauhan. Sarana transportasi yang ada di desa itu pun minim. Hanya orang yang beruang lah yang memiliki kendaraan motor ataupun sepeda ontel. Karena kebanyakan penduduk didesa ini, masih mengandalkan kekuatan kedua kakinya sebagai sarana transportasinya. Tak peduli harus berapa meter yang akan mereka lalui nantinya.
Rutinitas penduduk kembali hidup ketika fajar mulai terbit di ufuk timur, hingga serta merta pula penduduk desa itu beramai-ramai untuk pergi ke sawah masing-masing dengan membawa cangkul dan bekal secukupnya. Dan bagi mereka yang tak memiliki sawah sendiri, mereka akan bahu-membahu mengerjakan sawah tetangganya. Nilai kegotong-royangan masih sangat kental di desa ini. Seakan tidak pernah mengenal kejenuhan, rutinitas seperti ini terus mereka lakoni hingga petang menjelang.
Begitu cerita salah satu penghuni pribumi desa camplong ini. “Tak banyak rutinitas yang dapat kami kerjakan disini, selain bertani dan mungkin bagi yang punya perahu dia akan melaut yang tapi hasilnya pun tak cukup buat makan anak isteri. Akan tetapi rutinitas masyarakat desa ini mulai bergairah semenjak listrik masuk desa kami. Bersamaan dengan masuknya sarana telekomunikasi di desa ini, mulai dari telepon rumah hingga handphone,” kata Zainal, Mantan Kepala desa, yang telah dua kali menjabat ini.
Desa yang bersebelahan dengan pesisir pantai camplong ini, memiliki geografis yang kurang baik. Sehingga penanaman kabel telepon rumah pun sulit dilakukan. Kebanyakan pemilik telepon rumah adalah mereka yang rumahnya berada di samping jalan raya utama. Begitu pula dengan pemilik handphone, karena pada awal tahun 90an harga sebuah handphone masih mahal. “Awalnya hanya para penduduk yang kerabatnya bekerja sebagai TKI yang memiliki handphone, dan handphone itu mereka dapatkan dari kiriman saudaranya.Rata-rata handphone itu mereka gunakan untuk bertukar kabar dengan sanak saudaranya yang menjadi TKI di Malaysia dan Saudi Arabia,” jelas pria yang telah berusia 86 tahun ini.
Seakan tak ada sekat pembatas antara si kaya dan si miskin. Penduduk di desa yang masih satu wilayah dengan Kabupaten sampang ini, sering kali berbagi, tolong-menolong antar sesama. “satu yang tidak berubah, pangguyuban masyarakat di desa ini masih sangat kental. Masyarakat disini seakan tak pernah merugi, walaupun tetangganya sering kali menyambanginya hanya sekedar meminjam hp guna menanyakan hasil taninya yang dijual di luar daerah pada koleganya,” tandas seorang warga dengan logat Madura yang khas.
Dengan adanya komunikasi dua arah ini, mengejar ketertinggalan dengan desa yang lain mulai terlihat. Geliat perekonomian mulai tumbuh setahap demi setahap. “Tak hanya kami gunakan untuk berhubungan dengan famili, kami juga gunakan untuk memasarkan hasil tani kami ke Surabaya dan sekitarnya,” terang Usman, salah seorang petani jambu air yang telah menjadi tuan di daerahnya sendiri.
Memang tak dapat dipungkiri, bahwasanya dengan adanya handphone walaupun masih belum mendominasi di daerah ini, perekonomian yang dulunya hanya remang-remang ini, kini mulai terlihat geliatnya.
Padahal sebelumnya, perekonomian di desa ini boleh dikatakan redup. Penduduk hanya hidup dengan mengandalkan hasil pekarangan yang tidak seberapa. Walaupun pernah juga hasil bumi mereka melimpah hingga pernah mereka pasarkan ke Ibukota di Kabupaten, namun hasilnya pun tak dapat menutupi kebutuhan hidup mereka. Tapi dengan adanya handphone memberikan kemudahan bagi penduduk setempat.
Dan imbasnya pun semakin dirasakan oleh penduduk desa yang letaknya Kabupaten Sampang ini makin banyak. Awalnya handphone menjadi barang mahal dan kepemilikannya pun hanya orang-orang tertentu, kini mulai dimiliki banyak orang. Seperti menemukan oase di tengah luasnya padang pasir. Dengan harga telepon yang kini bisa dijangkau hampir setiap elemen masyarakat ditambah dengan adanya regulasi pemerintah untuk menurunkan tarif telepon seluler. Sangat memudahkan penduduk desa Camplong untuk melakukan perekonomian guna meningkatkan tarafi hidupnya.
“Alhamdulillah kehidupan kami sekarang berkecukupan. Sekarang kami tidak perlu lagi pulang pergi untuk menawarkan jambu air kami ke Surabaya. Banyak orang yang sudah jatuh hati dengan jambu air dari pekarangan saya. Saat ini rata-rata mereka langsung memesannya via telepon bahkan ada pula yang hanya meng-sms ke hp saya,” terang Usman bangga.
Tak hanya Usman dan petani lain yang merasakan perubahan kemajuan dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong. Hal senada turut dirasakan Kodir. Pemilik Kios isi ulang pulsa yang bernama “Rizki”. Memang kios yang dimiliki Kodir tak cukup luas, hanya berukuran 3×5 m2. Akan tetapi di kios yang hampir seluruh dindingnya di penuhi dengan poster berwarna orange dan biru yang bertuliskan “XL, jangkaun Luas, tarifnya termurah ke semua operator” lengkap dengan Luna maya sebagai bintangnya, setiap harinya Kodir bisa meraup laba kurang lebih Rp 150.000. “Memang hanya voucher isi ulang bebas dan Jempol yang laku disini dibanding dengan yang lainnya. Jadi jangan heran, poster-poster seperti banyak disini,” Ujar Kodir yang telah tiga tahun menekuni usaha jasa isi ulang pulsa ini.
Berjualan jasa pelayanan seperti ini, Kini Kodir mampu menafkahi keluarganya dari hasil laba dari Kiosnya dan juga hasil taninya. Bahkan pemilik nama lengkap Kodir Ali ini sudah bisa memperkerjakan tetangganya yang pengangguran untuk turut menjaga kiosnya. padahal sebelumnya KOdir ak ubahnya dengan kebanmyakan pemuda yang lainnya di Desa Camplong. yang keseharinnya luntang-lantung di jalanan karena tak memilki pekerjaan yang tetap.
Keberhasilan pria yang telah berusia 40 tahun ini juga turut diikuti oleh penduduk lainnya. Karena tergiur dengan keberhasilan KOdir masyarakat di Desa Camplongmulai mengikuti jejak Kodir untuk mendirikan Kios yang serupa.
Memang tak dapat dipungkiri, mayoritas penduduk di Desa Camplong masih didominasi oleh pengguna kartu GSM dari Pt Excelcomindo Pratama atau yang lebih familiar dengan nama XL. Selain karena hasil suara yang dihasilkan lebih jernih dan tarifnya yang juga lebih miring. Menggunakan XL merupakan kepoercayaan. Kepercayaan yang ditaruh masyarakat untuk tetap setiap setia menggunakan XL di telepon selulernya. Salah satunya adalah Usman yag tetap setia menggunakan pro XL selama kurang lebih tujuh tahun guna berkomunikasi dengan sanak famili dan koleganya. “Kami sekeluarga, menggunakan kartu yang sama, XL sinyal jelas untuk adaerah terpencil seperti disini, jadi hubungan jual menjual tetap bisa lancar,” paparnya.
Dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong telah memberikan warna kehidupan yang baru. Karena kini di Desa Camplong tak lagi sunyi sepi. Di tengah-tengah negeri ini masih memiliki kurang lebih 180 Kabupaten yang masih berkategori kabupaten tertinggal. Perlahan tapi pasti, penduduk Desa camplong mulai mengejar ketertinggalannya hingga kesejahteraan pun mulai dirasakan penduduk setempat. Tak pelak juga, membawa nama Kabupaten Sampang di masyarakat luas, karena hasil bumi yang telah dihasilkan daerah Camplong telah menjadi icon tersendiri di Kabupaten Sampang. Hal ini dibuktikan dengan adanya logo jambu air yang terletak di pusat Ibukota di Kota Kabupaten Sampang. Karena masyarakat luas telah mengakui keunggulan hasil bumi dari daerah Camplong.
Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik di Kabupaten Sampang menunjukkan angka kemiskinan dan jumlah tenaga penganggueran mulai berkurang. Terlebih dengan hadirnya XL yang telah mendominasi, karena telah dipercaya penduduk desa Camplong tak hanya sebagai sarana komunikasi dengan kerabata tetapi pula difungsikan sebagai stimulus untuk membangkitkan perekonomian di desanya.
Penulis adalah
Siti Makkatur Rohmah
Mahasiswa Fisika
FMIPA ITS
Posted by: uniqmanusia on: Desember 23, 2008
Surabaya 30 Oktober
Awalnya diri ini merasakan tak ada yang teristimewa untuk minggu ini. Selain memunaikan kewajiban-kewajiban yang telah menyita seluruh pikiran diri ini. Di hari itu, seperempatnya telah diri ini lalui dan kesemuanya sama seperti biasa.Tak ada teristimewa.
Jengah dengan keadaan yang sama. Akhirnya diri ini memutuskan untuk merehatkan diri ini sejenak di rumah singgah selama berjuang di Kampus Perjuangan. Dan setelah cukup lama, merehatkan beban pikiran serta merta pula diri ini untuk bergabung lagi dengan mereka. Keluarga kedua di kota Pahlawan.
Lagi, tak ada yang teristimewa. Tiap insan sibuk dengan kepentingan masing-masing. Hanya bunyi tuts keyboard yang terdengar. Bosan. Jengah. Pasti. Hingga pertemuan kecil itu baru dimulai ketika terik matahari telah menyingsing.
Lagi, lagi. Tak ada yang teristimewa. Pertemuan itu masih tetap sama. Gelak canda dan tawa hangatnya keakraban tiap insan masih tetap sama. Langgeng. (Alhamdulillah, semoga untuk selamanya). Tapi seketika jua di sela-sela pertemuan itu diri ini merasakan ada yang teristimewa. Walaupun itu tak berlangsung lama. Mungkin bagi yang lain itu tak bermakna namun bagi diri ini kala itu amat berarti.
Sorot mata elang itu sangat tajam. Diri ini merasakannya. Di kala sepersekian detik mata sayu ini sempat beradu pandang dengan mata elanng itu. Langsung seketika pertanyaan dalam benak diri ini pun bermunculan.
“Apa maksud dengan tatapan itu?, Apakah sudah lama dirinya memandangi diri ini?, Adakah yang salah dari diri ini?, Mengapa mata elang itu menatap diri ini setajam itu???”
Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Di tenngah menjemukannya pertemuan siang itu, diri ini pun tenggelam dengan pertanyaan yang tak jua diri ini temukan jawabannya. Hingga kekonyolan-kenyolann kecil dari pertemuan itu membangunkan diri dari lamun yang tak berujung.
Hingga untuk kedua kalinya, diri ini menemukan lagi mata elang itu lekat menatap diri. Seakan membius mangsanya, tatapan itu taja, tapi tak banyak orang yang tahu.
Duhai…Elang….
Adakah yang dirimu sembunyikan…
Jika, firasat ini benar….
Beri tahukan apa rahasia itu….
Agar diri ini tak semakin larut dengan tanya…..
(NB:Terinspirasi dari suatu kisah seorang teman)
Posted by: uniqmanusia on: November 21, 2008
Seperti biasa….
Beberapa waktu lalu ide iseng itu timbul begitu saja. Hingga diri ini pun beriniasitif untuk bermain dengan kata-kata hingga merangkainya menjadi suatu rangkaian kalimat yang menarik. Sebelumnya diri haturkan bagi rekan-rekan sebuah kata maaph dan terima kasih telah mengisi relung hidup kala itu, sehingga diri ini pun berinisiatif untuk mengabadikannya menjadi sebuah kisah. Dan kisah ini terinspirasi dari seorang teman yang hampir kala itu menyita seluruh raga dan pikiran.
Dan setelah merampungkannya maka diri ini pun berinisiatif untuk mengikutsertakan dalam suatu ajang. Yach….seperti biasa…iseng….
Dan Syukur Alhamdulillah tulisan itu memang akan abadi nyatanya. Hingga nantinya tulisan kecil itu akan banyak dikenang orang banyak. Karena nantinya akan bersanding bersama dengan kisah-kisah lainnya. Yang tak kalah seru, lucu bahkan mungkin memilukannya….
Tulisan kecil itu:
Sobat…..
Diri ini berharap ketika dirimu telah membaca ini, rasa itu akan berubah menjadi lebih baik. Karena sejujurnya diri ini masih mengharapkan dirimu untuk dapat mencintai diri ini.
Sobat….
Entah mulai kapan diri ini menaruh rasa istimewa itu terhadap dirimu. Segala sesuatunya mengalir begitu saja, bahkan panggung sandiwara dunia pun seakan ikut mendukung. Karena selalu meminta kita untuk memainkan lakon kehidupan yang bersamaan, sehingga mau atau tidak diri ini selalu terikat tapi tak mengikat dengan dirimu.
Waktu pun terus berputar tiada hentinya, hingga tiada terasa sudah cukup lama diri ini memendam rasa istimewa itu sendirian. Angan dari diri ini pun terus melambung tinggi akan dirimu dan lamunan akan masa depan yang tergurat dengan jelasnya. Bahkan diri ini mulai berani untuk bermimpi akan kebahagiaan di masa depan dapat diraih bersama dirimu dalam sebuah mahligai perkawinan.
Akan tetapi, kenyataan nampaknya tak mau beriringan dengan khayalan serta mimpi diri ini. Karena di saat diri ini semakin dalam mencintai dirimu, di saat yang sama pula diri ini merasakan bahwa dirimu seakan terus menjauh. Dan itu nampak jelas dari perilakumu bahkan komunikasi diantara kita hampir tak ada lagi.
Oleh karena itulah, rasa itu terus saja diri ini pendam sendirian, sehingga tiada terasa waktu yang berjalan telah cukup lama. Hingga tanpa diri ini sadari bahwa begitu lama pula hari-hari yang telah diri ini lalui dengan tangisan. Dan tangis itu selalu pecah dikala diri ini merindukanmu, dikala dirimu tak mempedulikan adanya diri ini bahkan tangisan yang mengharapkan dirimu mengerti apa yang diri ini rasakan terhadapmu.
Tak banyak yang dapat diri ini perbuat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, karena ada jarak yang semakin lebar membentang. Dan batas diantara kita berdua untuk saling berkomunikasi nampak jelas. Jujur, diri ini semakin tersiksa karena keadaan yang demikian. Hingga timbul keberanian dari diri ini untuk mengutarakannya kepada dirimu. Awalnya diri ini ragu, akan tetapi hati ini seakan tak sepaham dengan pikiran yang kala itu masih menganggap hal itu tak sepatutnya dilakukan.
Keputusan besar telah diambil, diri ini akhirnya mengungkapkan relung hati, walaupun itu terkesan secara implisit, tapi diri ini yakin bahwa tujuan dari pesan singkat itu dapat ditangkap oleh dirimu.
Dalam doa kala itu, diri ini berharap balasan dari pesan singkat itu membawa kabar bahagia. Akan tetapi lagi-lagi kenyataan tak mau sejalan berdampingan dengan harapan diri ini. Sontak diri ini seakan tak percaya akan balasanmu kala itu.
Hingga tanpa sadar bulir-bulir air mata terus mengalir semakin deras dari pipi hingga diri ini tak sanggup lagi untuk membendungnya. Sekujur tubuh pun terasa lemas, gontai tak bertuan hingga diri ini pun merasakan kehampaan dalam hidup. Dan hingga kini kata demi kata itu masih tersimpan dengan baik dalam memori diri.
“Aku masih belum tahu apakah dirimu ataukah dirinya yang akan menjadi jodohku.
Pintaku janganlah berlebihan dan janganlah terlalu berharap.”
Sobat….
Walaupun dirimu telah memperlakukan diri ini sedemikian. Jujur diri ini tak kan marah apalagi membenci dirimu karena semuanya tak sanggup diri ini lakukan. Diri ini juga sadar bahwa tak ada yang teristimewa dari diri ini jika dibandingkan seseorang yang pernah menjadi pujaan dalam hati mu. Tapi pintaku, ijinkan diri ini untuk dapat meneguk buah kebahagiaan dengan mencintai dirimu hingga dirimu dapat merasakan hal yang sama.
Surabaya 10 September 2008
Yach…walaupun kisah itu akan diabadikan dengan kisah yang lainnya. Akan tetapi kisah itu akan menjadi abadi dalam benak diri….InsyaAllah….
Posted by: uniqmanusia on: November 16, 2008
Bermula dari ide gila yang diutarakan seorang teman lewat sebuah sms Akhirnya diri ini memutuskan untuk menuruti ide gila dan konyolnya…
Diri ini pun mulai ber sms ria dengan beberapa orang rekan untuk menuruti ide gila dan konyol itu…
“Gambarkan tentang dengan satu kata…
HANYA SATU KATA”, jari-jemari ini dengan lihainya menekan huruf-huruf itu hingga terangkai menjadi sebuah kata dan pesan singkat itu diri kirimkan satu per satu pada reka-rekan terdekat. Hingga nada sms, pertanda adanya pesan baru pun serig kali terdengar, dan kemudian satu per satu dibaca oleh diri ini….
Sontak diri ini terkejut dan tertawa ketika mebaca pesan tersebut…..
Hingga kekecewaan itu datang ketika membaca pesan dari orang yang amat sangat diri ini tunggu jawabanya kala itu. Hanya empat huruf yang dikirimya, untuk menggambarkan diri ini. Hingga tanpa sadar bulir-bulir air mata itu jatuh tanpa terasa. Kecewa???Yach itulah hal yang diri ini rasakan.
Hingga satu pertanyaan muncul dalam benak diri, apakah diri ini seperti apa yang mereka katakan???Apakah diri ini seburuk itu??? Ataukah diri ini sebaik yang mereka katakan???
Entahlah…diri ini sudah tidak mau memusingkannya lagi….walau sempat ada rasa kecewa itu…..
Karena sudah tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan, akhirnya pun diri ini mulai menganalisa satu persatu penggambaran yang dilontarkan oelh reka-rekan kala itu….
1.Kurus Kerempeng…
Kata-kata hampir mendominasi di setiap pesan yang terkirim oleh rekan-rekan kala itu. Tapi diri ini juga tak dapat memungkiri bahwa diri ini memang begini adanya, kurus kerempeng. Maklumlah diri ini memang males untuk makan apalagi ketika masalah makin menumpuk tugas makin menggila. Hingga tak jarang pula diri ini terserang sakit….
Whehehehe….^_^”
2. Aneh
Yach, hampir setiap orang mengatakannya. Diri ini juga bingung, apa yang aneh dengan diri ini? Mungkin ada yang bisa menjelaskan apa yang aneh dengan diri ini???
3. Cengeng
Kalau untuk hal yang satu ini, memang tidak perlu ditutupi lagi. Diri ini termasuk orang yang berkategori cengeng. Tapi hal ini sering kali diri tutupi di depan orang kebanyakan hingga orang kebanyakan mengetahui diri kuat tegar tahan badai. padahal sebenarnya tidak. Diri cukup rapuh bak sebuah ilalang. Rapu
4. Pasrah
Pasrah dengan keadaan jika bertemu dengan permasalahan yang kian meruncing. Jika sudah demikian, maka untuk penghilang rasa penat satu-satunya adalah menangis.
5.Maaph
Kata-kata ini sering kali diri ini lontarkan ketika lelaku dari diri ini salah atau hanya tutur ucap yang mungkin tak berkenan di hati orang lain. Bukannya hanya sekedar ucap yang sering kali lontar. Melankan penuturan yang tulus ikhlas dari ini. Jika orang lain beranggapan mudah sekali diri ini mengutarakan kata maaph ,tak lain karena diri ini hanyalah manusia biasa yang sering kali khilaf…
Bukan hanya untuk sekedar main-main belaka.
6. Rajin
Maybe Yes Maybe No…
No comment
7.Dermawan
Mungkin rekan satu ini yang menuturkan hanya berlebihan karena nyatanya diri ini hanya manusia biasa.
8. Berharga
Itulah kata yang dilontarkan seorang teman yang tinggal di tempat yang jauh. Namun keberadaanya masih tetap saja dekat. Dirinya mengatakan bahwa diri ini sangat berharga bagi dirinya untuk seorang teman. Dan ketika alasan itu keluar dari dirinya air mata pun sontak menetes membasahi lesung pipi.
9. Muslimah
Y Pasti….Hingga akhir hayat diri ini tentunya
Kata ini dikirimkan oleh seseorang yang hingga kini raganya pun belum diri ini jumpai. Akan tetapi dirinya selalu bersedia menampung segala keluh kesah diri ini. Memberikan nasehat bijaknya kala diri ini mengalami keterpurukan. (Terima kasih banyak telah menjadi pengingat)
Pertanyaan selanjutnya, setelah membaca artikel ini. Terserah bagaimana rekan-rekan mengambarkan tentang diri ini.
Karena sejatinya diri ini adalah manusia biasa yang tak luput dari segala khilaf ^_^”
Posted by: uniqmanusia on: November 14, 2008
Tulisan kecil ini, semula diri ini tulis untuk mengikuti sebuah ajang perhelatan untuk penulis tentang kepemudaan. Dengan dibantu oleh seorang suhu(Guru)yang senantiasa membantu diri ini untuk memperbaiki hingga menjadi yang terbaik tentunya…..
Tapi apa daya….
Semua tinggal impian…
Ternyata tulisan kecil ini, belum dapat bersanding dengan tulisan yang lainnya…
Tak perlu panjang kata lagi…
Ni, tulisan kecil itu:
Kaum Muda Yang Bertahta
Oleh: Siti Makkatur Rohmah*1
Pemuda bukan sekedar pajangan
Pemuda bukanlah barang dagangan
Karena pemuda adalah aktor utama serial bangsa
Aktor utama yang membasmi kezaliman dan kemusyrikan2
Membicarakan seorang pemuda memang tiada habisnya. Karena pemuda adalah entitas yang tidak terpisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Pemuda adalah milestone peristiwa-peristiwa penting yang dialami bangsa ini. Hal ini disebabkan karena secara psikologis pemuda lebih identik dengan remaja dan dewasa awal, dimana pada tahap perkembangan ini manusia berada dalam tahap peralihan dan cenderung bersifat memberontak. Selain itu para pemuda biasanya memiliki sifat penuh dengan inisiatif, kreatif, cenderung antikemapanan, dan penuh dengan segala intrik yang bertujuan untuk membangun kepribadian. Alasan kedua lebih kepada jiwa yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan, pemuda tidak lagi dibatasi oleh usia dan perkembangan psikologis. Bisa jadi secara fisis seseorang memiliki tubuh yang muda namun secara mental ia berpengalaman dan dapat diadu dengan kaum tua.
Sejarah pun membuktikan, karakteristik unik yang dimiliki oleh pemuda ini diakui atau tidak telah memberikan catatan penting dalam sejarah dunia. Banyak tokoh-tokoh muda yang berhasil mencapai tampuk singgasana kepemimpinan dalam usianya yang belia dan dicatat sejarah dengan tinta emas karena telah memberikan gebrakan baru dan revolusioner.
Diantaranya adalah, pemuda priyayi Kusno Sosrodihardjo atau yang lebih dikenal Soekarno, usianya yang belum genap 45 tahun ketika ia dan sahabatnya, Mohammad Hatta, memproklamirkan kemerdekaan negeri dengan arkipelago terbesar di dunia. Selanjutnya duet maut ini membuat keputusan-keputusan kontroversial yang membuat Indonesia, sebagai negeri yang masih muda, semakin disegani dan dihormati oleh dunia.3
Setelah Soekarno, muncullah nama Soeharto yang juga merupakan seorang perwira muda. Usianya belum genap setengah abad ketika ia dengan strategi cerdas mencoba mengurai masalah politik tanah air yang kusut pasca Gestapu. Namanya pun melejit dan menggantikan Soekarno dalam usia yang masih muda pada 27 Maret 1968. Manuver politiknya yang cerdas –sekaligus kejam dan emosional, khas kaum muda- berhasil menciptakan stabilitas ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Nusantara. Cita-cita pembangunannya yang menggebu juga menjadi milestone penting perkembangan bangsa ini. Mengenai dosa politiknya setelah tiga puluh dua tahun memimpin, itu urusan belakang.4
Di Amerika Serikat, kepemimpinan kaum muda dirasakan salah satunya pada era pemerintahan William Jefferson Clinton alias Bill Clinton, Presiden AS ke-42, yang masih berumur 47 tahun pada 20 Januari 1993. Pada masa pemerintahan Clinton, rakyat AS menikmati perdamaian dan kesejahteraan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan periode manapun dalam sejarah AS. Clinton adalah presiden dari partai Demokrat pertama sejak Franklin D. Roosevelt yang berhasil menjabat selama dua masa jabatan.5
Dalam sejarahnya, perkembangan Islam juga dipenuhi banyak pemimpin muda. Salah satu yang terkenal adalah Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, atau Saladin menurut lafal orang Barat. Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyah yang kekuasannya mencakup Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Nama Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinannya, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat era Perang Salib. Selain pemimpin militer yang disegani, Salahuddin juga adalah seorang ulama dan cendekia yang cemerlang. Beliau banyak memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.6 Tidak dapat dipungkiri, Salahuddin adalah sosok pemimpin yang integral. Ia adalah salah seorang pahlawan besar dalam tarikh Islam, yang bukan hanya dikagumi rakyat dan pasukannya, melainkan juga sangat dihormati musuh-musuhnya. Seperti yang digambarkan dengan apik dalam karya sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott dan naskah film Kingdom of Heaven yang ditulis oleh William Monahan.
Pemuda Indonesia Saat Ini
Bagaimana keadaan pemuda Indonesia dewasa ini? Ironi memang jika harus menjawab pertanyaan tersebut. Karena realitanya mesih sedikit pemuda Indonesia yang masih peduli dengan negaranya. Sebagian besar yang lain, masih terlena dengan arus modernisasi yang memang gilap gemerlap itu.
Memang modernisasi menjadi semacam pedang bermata ganda bagi generasi muda bangsa ini. Sebuah hal yang paradoks, patut disyukuri atau malah suatu hal yang harus ditangisi. Bagi sebagian pemuda modernisasi menjadi lahan untuk mengembangkan diri dan membuat martabat bangsa ini kembali pulih di zaman yang semakin borderless ini. Tetapi modernitas juga menyisakan perilaku-perilaku hedonik yang terlihat sangat keren di hadapan jutaan mata muda negeri ini. Gue banget deh!
Saking silaunya, sebagian pemuda pun terlena. Akhirnya lemas malas tindas terlibas oleh budaya asing yang memang tidak difilter. Bagi sebagian lain yang masih bersuara lantang dan kritis terhadap keadaan pun semakin diasingkan. Teralineasi. Hal ini pun seakan diperjelas, dengan contoh nyata yang yang terjadi di lapangan. Hematnya pemuda bangsa ini dapat dibagi menjadi dua golongan, pertama adalah golongan pemuda yang masih menjaga egonya untuk tetap kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Kelompok lainnya adalah kelompok apatis hedonik yang larut dalam balutan baju ready-to-wear dari Zara atau mabuk dalam dentuman musik house dan trance. Kelompok kedua ini tidak sadar bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat penggangguran terbuka (TPT) pada Februari 2005 saja di Indonesia sudah mencapai angka 10, 3 persen, lebih tinggi dari Agustus 2004 yang hanya sebesar 9,9 persen. Masih banyak yang harus dipikirkan dari sekedar hura-hura.
Selain itu pula, masih adanya jarak pemisah antara pemuda kota dengan pemuda desa, sehingga mereka cenderung kurang peka terhadap negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Berdasarkan data Susenas 2006, jumlah pemuda Indonesia tahun 2006 mencapai 80,8 juta jiwa atau 36,4 persen dari total penduduk, sebuah jumlah yang luar biasa. Komposisinya sendiri terdiri dari 40,1 juta pemuda laki-laki dan 40,7 juta pemuda perempuan. Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, tampak bahwa pemuda yang tinggal di pedesaan jumlahnya lebih banyak daripada pemuda yang tinggal di perkotaan yaitu 43,4 juta berbanding 37,4 juta.
Jika dalam realitanya masih banyak pemuda yang terlena maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda Indonesia saat ini cenderung sibuk memikirkan dirinya sendiri. Sehingga seakan sudah tidak peduli lagi dengan keadaan bangsa dan negaranya. Padahal negara ini membutuhkan para pemuda yang dapat memberikan kontribusi nyata pada negeri ini. Karena pemuda merupakan sekolompok orang yang berada pada garda depan pembangunan bangsa ini.
Tongkat Estafet Kepemimpinan Selanjutnya
Salah satu ciri kepemimpinan kaum muda adalah berani membuat gebrakan, tanpa harus terlalu dipusingkan oleh seberapa besar risiko yang akan ditanggung kemudian. Hal inilah yang pada gilirannya memang seringkali memunculkan penilaian negatif bahwa kaum muda cenderung grasa-grusu, sedangkan kaum tua lebih bijaksana. Padahal, penilaian semacam itu bisa dibalik dengan melihat sisi positifnya. Misalnya, kecenderungan itu menunjukkan bahwa kaum muda lebih cepat merespon dan mengantisipasi masalah yang timbul dibandingkan kaum tua.
Sekedar berkaca pada sejarah masa lalu, Soekarno dengan usianya yang relatif muda telah yang menganut ideologi pembangunan ”berdikari” atau berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno muda yang gagah dengan gingsul manis di senyumnya itu dengan gagah mengejek Amerika Serika; go to hell with your aid! Melambangkan semangat muda mandiri yang bergelora.7
Mungkin bagi sebagian orang yang ada pada masa itu, tindakan yang dilakukan Soekarno kurang rasional. Akan tetapi berkat ini pula, yang mengobarkan semangat revolusi bangsa ini serta beberapa negara berkembang lainnya serta merta mengantarkan bangsa ini mencicipi manisnya hidup yang sejahtera.
Ciri kepemimpinan kaum muda lainnya adalah, memiliki integritas yang mendalam dan mengagumkan. Para pemimpin muda selalu punya komitmen tinggi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat tanpa embel-embel syarat dan prasyarat yang mengarah kepada kepentingan pribadi. Agak aneh memang, sejarah mencatat; dibandingkan dengan kaum tua, lebih banyak kaum muda yang terbukti ikhlas dalam memperjuangkan kepentingan umum (baca: bangsa).
Para pemimpin muda biasanya juga relatif lebih tidak terikat pada masa lalu ketimbang kaum tua. Hal itu menyebabkan kaum muda lebih leluasa melakukan gebrakan perubahan tanpa harus terkungkung rasa ewuh pakewuh. Dalam kaitan itu, pemimpin yang berasal dari kalangan kaum muda relatif lebih innocent dan bersih dari dosa masa lalu sehingga lebih dapat diharapkan mampu melakukan kerja-kerja perubahan ke arah perbaikan.
Para pemimpin muda yang muncul ke publik biasanya juga merupakan pribadi-pribadi terpilih yang memiliki keunggulan komparatif yang tidak biasa. Maka pastilah para pemimpin muda pasti bukanlah seorang tokoh yang muncul secara tiba-tiba alias pemimpin karbitan. Ia pastilah tokoh yang memang layak menjadi pemimpin dengan pengalaman luar biasa di belakangnya. Ditempa oleh berbagai pengalaman dan ujian yang kemudian meloloskannya ke kancah publik.
Usianya boleh muda, tetapi pastilah kata perjuangan telah hadir dalam kamus hidupnya jauh lebih dini dibanding orang-orang dari generasinya, bahkan bisa jadi lebih awal dibanding orang-orang dari generasi sebelumnya.
Setelah 10 tahun reformasi bergulir pentas politik nasional masih banyak didominasi oleh nama-nama politisi tua –yang dalam sejarahnya hanya mampu memunculkan kekecewaan baru dan harapan semu tentang keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang tak kunjung terwujud. Maka dengan ini dirasa perlu adanya sebuah bibit baru. Negeri ini butuh sekumpulan pemimpin cerdas dari kaum muda yang segar dan bersemangat.
Apalagi, dalam bukunya yang terbaru Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia, Amien Rais sendiri telah secara gamblang mendukung kepemimpinan kaum muda tersebut.8 Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, pun turut serta mendorong pemuda menjadi pemimpin, namun masyarakat jangan asal memilih pemimpin muda dan hanya melihat dari segi usianya saja tetapi juga harus melihat kemampuannya.9
Pertanyaannya sekarang, bagaimanakah kesiapan kaum muda menyambut sodoran tongkat estafet kepemimpinan bangsa itu? Jawaban untuk pertanyaan itu tentu saja tak cukup hanya dengan kata-kata akan tetapi dengan bukti nyata. Negeri ini membutuhkan suasana baru dalam singgasana kepemimpinan. Karena negeri ini sudah terlalu jengah dengan imperialisme modern yang terus mengakar.
Jika saja, euforia kepemimpinan itu ada di dalam pesta demokrasi mendatang, diharapkan ada beberapa kaum muda dengan wajah yakin dan sumringah yang bertekad untuk memimpin negeri ini. Rakyat tentunya menghendaki adanya angin segar perubahan untuk perbaikan di masa yang akan datang, hingga nantinya tak akan ada lagi jerit tangis ibu pertiwi. Karena tidak lama lagi bangsa ini akan mengulang lagi masa-masa kejayaannya. Semoga.
Referensi :
Brown, Collin. A Short History of Indonesia; The Unlikely Nation. Allen&Unwin: 2003
Rais, Amien. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Mizan & PPSK. Yogyakarta: 2008.
Taylor, Jean Gelman. Indonesia; People and Histories. Yale University Press. 2003
National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008.
http:www.ginandjar.com/public/08KepeloporandanKepemimpinan
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/07/01/brk,20050701-63290,id.html(jumlah data pengangurandi Indonesia)
———–http://id.wikipedia.org/wiki/Bill_Clinton
———–http://id.wikipedia.org/wiki/Saladin
———–http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/
———-http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/26/nas06.html
1 Penulis adalah mahasiswa Fakultas MIPA ITS Surabaya
2 Mengutip sajak Ahlul Badrito Resha (mahasiswa Fak Hukum UGM), http://rito.rumahblog.com/
3 Taylor, Jean Gelman. Indonesia; People and Histories. Yale University Press. 2003
4 Brown, Collin. A Short History of Indonesia; The Unlikely Nation. Allen&Unwin: 2003.
5 http://id.wikipedia.org/wiki/Bill_Clinton
66 http://id.wikipedia.org/wiki/Saladin
7 National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008.
8 Rais, Amien. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Mizan & PPSK. Yogyakarta: 2008.
9 Disamapaikan pada Pertemuan Senat Mahasiswa Se-Jawa Tengah di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jumat (25/4)
Walaupun rasa kecewa itu pernah ada. Karena tulisan ini belum dapat bersanding dengan tulisan yang lain. Tapi kini diri ini sudah ikhlas menerima….
Karena sejatinya penulis bukan dilihat dari betapa banyak penghargaan yang diraih melainkan berapa tulisan yang pernah ditulis…..
Komentar Terakhir