Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

Mentari Eidelwiess

pada Maret 21, 2009

“Sinarmu memang tak menyilaukan, namun telah meluluhkan hati yang beku ini”

Mungkin memang sudah menjadi tradisi dan kodrat perempuan untuk tetap menunggu. Menunggu pangeran berkuda, yang akan membawanya mengurangi birunya lautan kehidupan. Begitulah pula yang dirasakan Lasi. Seorang perempuan yang umurnya memang tak lagi belia bahkan sudah boleh dikatakan dewasa. namun tak jua, ada kumbang yang mendekatinya walau hanya sekedar singgah untuk mengagumi keindahannya.

Bukan karena ia tak memikat karena bunga desa itu tak lagi ada di pematng sawah yang jauh dari penghisap madu. Justru kini, ia berada dikerumunan taman kumbang, dimana setiap kumbang meahlian masing-masing. tapi apa boleh dikata, pengeran berkuda bahkan sang kumbang tak jua sianggah pada muara hatinya.

“Gimana las, kapan kamu akan memeperkenalkan “teman” mu ke Tante?”

Ouwh, masih belum tante, Lasi masih sibuk dengan tugas kuliah. Jadi belum sempet mikir ke arah sana,” jawab Lasi dengan lihai, manakala keluarga besarnya meanyakan hal yang sam, di setiap pertemuan keluarganya.

Padahal sebenarnya hatinya miris, terpojokkan seakan-akan bunga desa tak jua laku. tapi menit berganti jam jam pun telah tergantikan oleh hari dan seterusnya. namun hal itu tak lagi menajdi barang mewah yang menyita banyak pikiran lagi.

Irama kehidupan terus Lasi lakoni walau tak ada pujangga yang menemani. walaupun disekelilingnya dikerumuni oleh beragam species kumbang namun benar-benar tak ada yang hinggap, hingga hembusan kabara angin terdengar.

” Las lo, pacaran yach ma zaky, deket banget sich,bener-bener soulmete,” ungkap Ingga teman akrabnya di waktu jam-jam kosong kuliah.

“Aah…ngaco kamu. lasi ma zaky cuma temen. kebetulan kami ngambil bidang yang sama di jurusan. jadi mau nggak mau tetep aja berurusan ma dia,” sanggah Lasi datar.

Memang dengan kasat mata, keduanya nampak lebih mirip menjadi sepasang kekasih daripada seorang teman. Keakraban keduanya sangat dekat. namun lagi, tak ada perekat yang mengikat keduanya melainkan sebuah pertalian persahabatan.

Tapi perempuan tetaplah perempuan. Memang sudah kodratnya, ia diciptakan dari tulang yang bengkok. Mersa nyaman jika ada tempat berlabuh, mencurahkan segala keluh kehidupan. Tersanjung karena pujian-pujian kecil, merasa nyaman karena ada yang melindungi.

Begitupula, yang dirasakan  Lasi. Bak hangatnya mentari pagi. Sesosok pria berdarah jawa bernamakan Zaky seakan telah memberika aura baru. Walau hanya ada seutas tali tipis persahabatan yang mengikat keduanya. Hidup Lasi ada yang berubah, kadang ia bahagia senyum sumringah pun sering ditemui dalam rona wajahnya, namun tak jarang pula muka sembab karena telah bercucuran air mata di malam harinya karena ulah sang mentari pun sering kali didapati.

Sering pula, Lasi bertanya pada dirinya sendiri, sesering teman-teman-teman kampus yang menanyakan pertalian anatara dirinya dan Zaky. Tapi Lasi tetep keukeh dengan pendirian bahwa saat hanya ada benang tipis yang mengikatkan keduanya, yakni sebuah pertalian persahabatan. karena lagi tak ingin menjadi tupai yang jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Tapi mentari tetaplah mentari, hangatnya sinar mentari yang lembut itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang beruntung, yang selalu terjaga di pagi hari. Sekejap memang kehangatan itu terasa, namun ia menyimpan seribu bahasa kelembutan. Mentari yang menggantikan bulan yang tak lagi bercahaya karena gelapnya malam yang menyelimuti.

Walau demikian adanya, lasi tetap merasa bersyukur, walau hanya dapat bersahabat dengan Zaky, sang mentari paginya. Karena setidaknya (Lasi, Red) benar-benar tak sendiri lagi.

“Mentari pagi,
eidelwiess tetap menunggu pagi sinarmu.
walau itu hanya sekejap diri rasakan tapi itu bermakana,
diri ini pun berharap, sinar mentai itu tak menguap begitu saja,  hingga diri ini tak lagi menjadi eidelwiss yang lagi sendiri”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: