Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

Ilalang dan Sang Kembara Angin

pada Juli 14, 2010

Lama sekali jemari ini tak bermain dengan huruf, merangkainya menjadi sebuah kata yang kemudian terwujud menjadi sebuah kalimat yang hingga nantinya tertuang dalam sebuh tulisan. Nalar diri ini kini telah mati, tertimbun dengan logika dan angka hingga diri ini pun terperangkap di lembah matematis yang tak mungkin lagi dapat dihindari.
Hingga akhirnya nalar diri ini kembali meronta hingga akhirnya berontak karena tak ada lagi ruang untuknya berkeluh kesah menceritakan segala peristiwa yang telah diri ini lewati.
Dan inilah hasil pemberontakan yang telah dilakukan sang nalar yang telah meluluhlantahkan sang logika.
Desah Ilalang
Ntah dari mana angin itu bermuara, tapi sejuknya makin terasa menusuk sendi-sendi. Angin yang selalu membawa kesejukan di tengah teriknya matahari. Makin lama, terasa semilir angin itu telah menguasai penikmatnya, angin sepoi-sepoi yang menghanyutkan setiap penikmatnya hingga mengantarkan ke surga dunia. Bahagia rasanya walaupun rasa itu hanya semu belaka. Karena rasa itu hanya sementara, angin tak punya cukup waktu untuk tetap bertahan. Sang angin harus berkelana melanjutkan kembaranya.

Kembara Angin
Aku ada, tak kasat mata, namun tak ada satu orang pun yang dapat menjamah. Karena ada ku bukan untuk dimiliki, tapi aku ada untuk dirasa. Seakan mengikuti kodrat, sang angin hanya datang untuk sementara dan akan kembali ntah untuk kapan. Karena angin dapat begitu mudahnya hilir mudik untuk datang dan pergi tanpa sebuah beban. Bahkan angin sering kali menghilang di putaran waktu. Padahal kesejukan akan hadirku amat sangat dirindukan.

Tak ubahnya dengan sifat sang angin yang dapat dengan mudahnya berpindah tempat, maka tak jarang pula sang angin membawa kabar yang tak menentu. Karena angin tetaplah angin, datangnya selalu tak terduga begitu pula kabar yang dibawanya. Terkadang sang angin membawa berita yang membuat penikmatnya terperanga karena kabar itu melahirkan senyum serta decak tawa nun bahagia. Namun tak jarang pula, sang angin membawa kabar yang menorehkan luka yang teramat perih, hingga luka itu semakin temaram dan tak kunjung padam.

Ingin diri….
Semilir angin itu tetap ada dan menetap tanpa harus menjalani kodratnya untuk melanjutkan kembaranya. Karena semilir angin itu benar adanya membawa bahagia. Dan diri pun tak ingin bahagia itu menguap begitu saja tertelan dipusaran waktu.

Desah Ilalang
Aku ada, namun ada ku sering kali menjadi pengganggu bahkan merusak. Bukan inginku untuk menjadi perusak ataupun yang terusak, aku sama seperti yang lain. Ingin sekali dikatakan indah, hingga menyejukkan setiap mata yang memandang. Karena ketika rasa bahagia itu ada, tentunya aku turut merasakan rona bahagia itu.

Itulah ilalang…
Tanaman liar yang sering kali dianggap tanaman pengganggu namun warna hijaunya sesekali dapat menyejukkan setiap mata yang memandang. Bagi mereka yang melihat, ilalang itu nampak kokoh walaupun musin kemarau telah tergantikan dengan penghujan yang mengguyuri bumi.

Sebenarnya, segala gurat ketakutan dan ketidakberdayaannya ia sembunyikan serapat mungkin hingga semak disebelah ataupun serangga yang menghampirinya tak ada mengetahui. Pesakitan yang dideritanya karena telah terinjak, teriknya panas matahari ataupun dinginnya musim penghujan tak jua ditampakkannya. Hingga dirinya meronta karena harus menahan pesakitan seorang diri. Namun ilalang tetaplah ilalang. Berusaha untuk tetap kuat walaupun sebenarnya dirinya rapuh.

Kembara Angin
Sering sang angin berkelana, rupa-rupa banyak ditemui. Hingga sang angin terperanjat di suatu tempat di tanah lapang. Tanah lapang yang menyejukkan mata, sang angin dapat leluasa hilir mudik di hamparan nun hijau itu tanpa perlu energi lebih untuk dapat melewatinya.

Tapi di tanah lapang itu, nampaknya ada yang berbeda. Seonggok tanaman yang hijau namun ia sering kali tak dihiraukan. Ketika sang angin datang, ia meliuk-liuk dengan indahnya. Menari-nari dengan lemah gemulai seakan dirinya sangat berbahagia akan datangnya sang angin. Tak butuh energi yang besar agar tanaman kecil itu dapat menari dengan indah, cukup dengan energi sisa dari sang angin karena telah lama berkelana, tapi tanaman kecil itu telah membuat sang angin terperana.

Akankah sang angin kembara dapat tetap bertahan hanya demi sebuah ilalang?
Akankah keduanya dapat teramu dan tersaji menjadi satu?
To Be Continue…


2 responses to “Ilalang dan Sang Kembara Angin

  1. faza berkata:

    ……hehehe…….top…………………….

  2. uniqmanusia berkata:

    faza: trims yach….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: