Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

XL, Aktifkan Ekonomi Camplong

pada Desember 29, 2008

Sekitar tahun 90an, Desa Camplong tak jauh beda dengan desa-desa yang lainnya. Desa kecil itu hanya berhunikan beberapa kelompok kecil saja. Daratannya pun masih asri, jauh dari kata polusi. Bahkan desa yang terletak berseberangan dengan pesisir pantai Camplong ini, segarnya udara masih dapat dihirup dengan bebas. Bahkan sejauh ata memandang, tak banyak yang dapat dilihat selain hamparan sawah yang menghijau dengan padi dan tanaman palawijanya.

Di desa nun kecil itu tak banyak bangunan rumah yang dapat ditemui, karena jarak antar rumah yang satu dengan yang lainnya saling berjejauhan. Sarana transportasi yang ada di desa itu pun minim. Hanya orang yang beruang lah yang memiliki kendaraan motor ataupun sepeda ontel. Karena kebanyakan penduduk didesa ini, masih mengandalkan kekuatan kedua kakinya sebagai sarana transportasinya. Tak peduli harus berapa meter yang akan mereka lalui nantinya.

Rutinitas penduduk kembali hidup ketika fajar mulai terbit di ufuk timur, hingga serta merta pula penduduk desa itu beramai-ramai untuk pergi ke sawah masing-masing dengan membawa cangkul dan bekal secukupnya. Dan bagi mereka yang tak memiliki sawah sendiri, mereka akan bahu-membahu mengerjakan sawah tetangganya. Nilai kegotong-royangan masih sangat kental di desa ini. Seakan tidak pernah mengenal kejenuhan, rutinitas seperti ini terus mereka lakoni hingga petang menjelang.

Begitu cerita salah satu penghuni pribumi desa camplong ini. “Tak banyak rutinitas yang dapat kami kerjakan disini, selain bertani dan mungkin bagi yang punya perahu dia akan melaut yang tapi hasilnya pun tak cukup buat makan anak isteri. Akan tetapi rutinitas masyarakat desa ini mulai bergairah semenjak listrik masuk desa kami. Bersamaan dengan masuknya sarana telekomunikasi di desa ini, mulai dari telepon rumah hingga handphone,” kata Zainal, Mantan Kepala desa, yang telah dua kali menjabat ini.

Desa yang bersebelahan dengan pesisir pantai camplong ini, memiliki geografis yang kurang baik. Sehingga penanaman kabel telepon rumah pun sulit dilakukan. Kebanyakan pemilik telepon rumah adalah mereka yang rumahnya berada di samping jalan raya utama. Begitu pula dengan pemilik handphone, karena pada awal tahun 90an harga sebuah handphone masih mahal. “Awalnya hanya para penduduk yang kerabatnya bekerja sebagai TKI yang memiliki handphone, dan handphone itu mereka dapatkan dari kiriman saudaranya.Rata-rata handphone itu mereka gunakan untuk bertukar kabar dengan sanak saudaranya yang menjadi TKI di Malaysia dan Saudi Arabia,” jelas pria yang telah berusia 86 tahun ini.

Seakan tak ada sekat pembatas antara si kaya dan si miskin. Penduduk di desa yang masih satu wilayah dengan Kabupaten sampang ini, sering kali berbagi, tolong-menolong antar sesama. “satu yang tidak berubah, pangguyuban masyarakat di desa ini masih sangat kental. Masyarakat disini seakan tak pernah merugi, walaupun tetangganya sering kali menyambanginya hanya sekedar meminjam hp guna menanyakan hasil taninya yang dijual di luar daerah pada koleganya,” tandas seorang warga dengan logat Madura yang khas.

Dengan adanya komunikasi dua arah ini, mengejar ketertinggalan dengan desa yang lain mulai terlihat. Geliat perekonomian mulai tumbuh setahap demi setahap. “Tak hanya kami gunakan untuk berhubungan dengan famili, kami juga gunakan untuk memasarkan hasil tani kami ke Surabaya dan sekitarnya,” terang Usman, salah seorang petani jambu air yang telah menjadi tuan di daerahnya sendiri.

Memang tak dapat dipungkiri, bahwasanya dengan adanya handphone walaupun masih belum mendominasi di daerah ini, perekonomian yang dulunya hanya remang-remang ini, kini mulai terlihat geliatnya.
Padahal sebelumnya, perekonomian di desa ini boleh dikatakan redup. Penduduk hanya hidup dengan mengandalkan hasil pekarangan yang tidak seberapa. Walaupun pernah juga hasil bumi mereka melimpah hingga pernah mereka pasarkan ke Ibukota di Kabupaten, namun hasilnya pun tak dapat menutupi kebutuhan hidup mereka. Tapi dengan adanya handphone memberikan kemudahan bagi penduduk setempat.

Dan imbasnya pun semakin dirasakan oleh penduduk desa yang letaknya Kabupaten Sampang ini makin banyak. Awalnya handphone menjadi barang mahal dan kepemilikannya pun hanya orang-orang tertentu, kini mulai dimiliki banyak orang. Seperti menemukan oase di tengah luasnya padang pasir. Dengan harga telepon yang kini bisa dijangkau hampir setiap elemen masyarakat ditambah dengan adanya regulasi pemerintah untuk menurunkan tarif telepon seluler. Sangat memudahkan penduduk desa Camplong untuk melakukan perekonomian guna meningkatkan tarafi hidupnya.

“Alhamdulillah kehidupan kami sekarang berkecukupan. Sekarang kami tidak perlu lagi pulang pergi untuk menawarkan jambu air kami ke Surabaya. Banyak orang yang sudah jatuh hati dengan jambu air dari pekarangan saya. Saat ini rata-rata mereka langsung memesannya via telepon bahkan ada pula yang hanya meng-sms ke hp saya,” terang Usman bangga.

Tak hanya Usman dan petani lain yang merasakan perubahan kemajuan dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong. Hal senada turut dirasakan Kodir. Pemilik Kios isi ulang pulsa yang bernama “Rizki”. Memang kios yang dimiliki Kodir tak cukup luas, hanya berukuran 3×5 m2. Akan tetapi di kios yang hampir seluruh dindingnya di penuhi dengan poster berwarna orange dan biru yang bertuliskan “XL, jangkaun Luas, tarifnya termurah ke semua operator” lengkap dengan Luna maya sebagai bintangnya, setiap harinya Kodir bisa meraup laba kurang lebih Rp 150.000. “Memang hanya voucher isi ulang bebas dan Jempol yang laku disini dibanding dengan yang lainnya. Jadi jangan heran, poster-poster seperti banyak disini,” Ujar Kodir yang telah tiga tahun menekuni usaha jasa isi ulang pulsa ini.

Berjualan jasa pelayanan seperti ini, Kini Kodir mampu menafkahi keluarganya dari hasil laba dari Kiosnya dan juga hasil taninya. Bahkan pemilik nama lengkap Kodir Ali ini sudah bisa memperkerjakan tetangganya yang pengangguran untuk turut menjaga kiosnya. padahal sebelumnya KOdir ak ubahnya dengan kebanmyakan pemuda yang lainnya di Desa Camplong. yang keseharinnya luntang-lantung di jalanan karena tak memilki pekerjaan yang tetap.

Keberhasilan pria yang telah berusia 40 tahun ini juga turut diikuti oleh penduduk lainnya. Karena tergiur dengan keberhasilan KOdir masyarakat di Desa Camplongmulai mengikuti jejak Kodir untuk mendirikan Kios yang serupa.

Memang tak dapat dipungkiri, mayoritas penduduk di Desa Camplong masih didominasi oleh pengguna kartu GSM dari Pt Excelcomindo Pratama atau yang lebih familiar dengan nama XL. Selain karena hasil suara yang dihasilkan lebih jernih dan tarifnya yang juga lebih miring. Menggunakan XL merupakan kepoercayaan. Kepercayaan yang ditaruh masyarakat untuk tetap setiap setia menggunakan XL di telepon selulernya. Salah satunya adalah Usman yag tetap setia menggunakan pro XL selama kurang lebih tujuh tahun guna berkomunikasi dengan sanak famili dan koleganya. “Kami sekeluarga, menggunakan kartu yang sama, XL sinyal jelas untuk adaerah terpencil seperti disini, jadi hubungan jual menjual tetap bisa lancar,” paparnya.

Dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong telah memberikan warna kehidupan yang baru. Karena kini di Desa Camplong tak lagi sunyi sepi. Di tengah-tengah negeri ini masih memiliki kurang lebih 180 Kabupaten yang masih berkategori kabupaten tertinggal. Perlahan tapi pasti, penduduk Desa camplong mulai mengejar ketertinggalannya hingga kesejahteraan pun mulai dirasakan penduduk setempat. Tak pelak juga, membawa nama Kabupaten Sampang di masyarakat luas, karena hasil bumi yang telah dihasilkan daerah Camplong telah menjadi icon tersendiri di Kabupaten Sampang. Hal ini dibuktikan dengan adanya logo jambu air yang terletak di pusat Ibukota di Kota Kabupaten Sampang. Karena masyarakat luas telah mengakui keunggulan hasil bumi dari daerah Camplong.

Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik di Kabupaten Sampang menunjukkan angka kemiskinan dan jumlah tenaga penganggueran mulai berkurang. Terlebih dengan hadirnya XL yang telah mendominasi, karena telah dipercaya penduduk desa Camplong tak hanya sebagai sarana komunikasi dengan kerabata tetapi pula difungsikan sebagai stimulus untuk membangkitkan perekonomian di desanya.

Penulis adalah

Siti Makkatur Rohmah
Mahasiswa Fisika
FMIPA ITS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: