Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

Perempuan Sahabatku

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhdapnya.
Cinta adalah ketika dia tak mepedulikanmu, namun masih menunggunya dengan setia.
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain, akan tetapi kamu masih bisa tersenyum seraya berkata “Aku turut berbahagia untukmu”
Dan cinta adalah alasan mengapa aku menangis saat ini…..
Awalnya tak ada hubungan yang teristimewa yang terjalin antara diri ini dengan dirinya. Kami hanyalah sepasang anak manusia yang sedang merajut sebuah benang atas nama persahabatan. Tanpa disadari, diri ini dan juga dirinya merasa nyaman satu sama lain. Hingga tak jarang pula, perbincangan ringan membumbui persahabatan kami. Mulai dari membahas perkuliahan yang sedang kami jalani dan seputar seluk beluk kehidupan ataupun perbincangan ringan yang tak berpangkal hingga candaan kecil yang sering kali membawa kami tertawa terpingkal-pingkal. Dan kebersamaan tersebut terus berlanjut, hingga kami serasa lebih dekat. Bahkan bukan hanya sekedar sahabat, itulah anggapan yang sering kami dapati, bagi orang-orang yang baru mengenal kami bahkan curiga tak beralasan sering kami dapati dari teman-teman di kampus.
“Eh,lo pacaran ma Indra yach?,” Tanya Inggrid kepada diri ini di sela-sela jam kuliah yang kosong.
“Jangan ngawur, Rini dan Indra cuma teman aja, nggak ada bedanya dengan teman yang yang lain kok ,” jelas diri ini.
Tapi diri ini pun sempat merasakan keganjalan, karena pada saat kalimat itu telah terucap bahwa Indra hanyalah seorang teman ataupun sahabat. Relung hati ini seakan berontak, menolak apa yang telah terucap. Namun tetap saja, diri ini tak pernah menghiraukannya.
Waktu pun terus berjalan, dan tak pernah ada kata berhenti walau sejenak. Begitu pula, dengan persahabatan yang telah diri ini jalin dengan Indra. Di kampus, Indra termasuk tipe orang yang tidak membeda-bedakan teman. Walaupun, Indra termasuk salah satu mahasiswa yang berperangai menarik dikalangan mahasiswi, bahkan tak ada gadis yang tak akan tertarik kepadanya. Selain itu, perangainya yang tinggi seakan menambah aura ketampanannya. Terlebih lagi sikapnya yang ramah tentunya semakin membuat perempuan terkesima akan kebaikan yang diberikan. Sebagai sahabat yang baru diri ini kenal kurang lebih tiga tahun ini, rasanya diri ini cukup bangga terhadap dirinya, walaupun sering kali ini rasa iri terhadap dirinya pernah singgah, walau hanya sebagai teman.
Terlepas dari daya tarik yang dimiliki Indra, diri ini seakan terlena, karena diri ini pun sudah tak lagi mempedulikan kabar angin yang telah merasuk di otak teman-teman kampus tentang diri ini dan juga dirinya. Seperti telah dibius dengan heroin, diri ini pun tak lagi sadar, ternyata yang diri ini hadapi adalah jurang curam yang telah siap menjatuhkan diri ini ke lembah kepesakitan. Dan hal itu, mulai diri ini rasakan manakala Indra mulai bercerita tentang perempuan lain yang mendekati dirinya. Awalnya, diri ini menganggapnya sebagai bualan belaka tapi lambat laun, terasa luka diri rasakan tapi diri ini pun tak tahu bagian mana yang tersayat luka itu.
“Rin, aku baru PDKT dengan Uphi nih. Dia cantik lho, anak fakultas Teknik pula, anak angkatan baru sich”
“Aku cuma bisa nyaranin hati-hati, ngejaga hati itulah yang penting, jangan main-main dengan anak orang” pintaku pada Indra.
“Nyantai aja, cuma tahap penjajakan, belum tentu juga bisa nyambung dengan dia,” tegas Indra membela diri.
“Tapi, ada yang lebih menggoda lagi Rin, ada temen kostnya Lia minta kenalan, ya udah aku iya kan aja ajakannya,”
“Dasar cowok,” gerutu diri ini kesal.
“Kok bisa-bisanya seperti itu?”
“Yang penting aku nggak ngapa-ngapain, kami cuma berteman kok, beda lagi kalo aku sudah ngejalanin hubungan dengan seseorang, aku pasti bakal serius ngejalaninnya” belanya lagi.
“Terserahlah,” diri ini pun segera meninggalkan Indra tuk mengakhiri pembicaraan yang semakin menjemukan.
Perselihan kecil seperti itu seringkali terjadi, manakala Indra sudah mulai mengadu tentang perempuan yang berusaha mendekatinya. Tapi tak berlangsung lama, kami pun dapat kembali berbaikkan seakan tak ada masalah yang telah terjadi.
Perputaran waktu pun terus melaju ke masa depan dan tak dapat dihentikan lagi keberadaannya. Akan tetapi pergolakan hati ini terus saja merajai diri ini. Ya, semula diri ini beranggapan bahwa diri ini dapat bersahabat dengannya tanpa melibatkan perasaan ketertarikan antara perempuan dengan laki-laki pada umumnya. Diri ini mengira akan tetap sama dapat mengerti dirinya, karena telah banyak hal yang pernah kami alami bersama namun rasa pesakitan yang abstrak itu masih sering kali diri ini dapati. Untuk itu, diri ini pun dengan sekuat tenaga untuk meredakan pergolakan hati ini. Tapi, segala usaha itu, nampaknya sia-sia belaka. Mula-mula diri ini turut merasakan kegembiraan, ketika dirinya gembira manakala bercerita tentang perempuan lain, matanya begitu berbinar dan bercahaya, seakan turut memberikan ruh baru dalam hidupnya. Namun semakin lama, rasa simpati ini berubah arah menjadi cemburu. Dan diri ini tak bisa melihat dirinya gembira, diri ini benar-benar cemburu terhadapnya.
“Rin, kamu tahu nggak, rasanya hatiku dah condong ma teman kostnya Lia, si Ana,”
“Yach, walau sampai sekarang aku masih belum tahu persis gimana wajahnya dan perilakunya, tapi dengan komunikasi yang sering aku lakuin dengannya walau cuma sebatas sms aja, rasanya hati ini dah klop,”
“Aku dah nggak sabar pengen ketemu dengan perempuan yang satu ini, Rin, tolong doakan aku yah!!!”
“Kalau yang ini, aku dah merasa klop aku janji nggak bakal main-main lagi dengan yang namanya perempuan” cerita Indra di sela-sela pengerjaan tugas besar kami.
“Ouwh, syukurlah kalau begitu, aku cuma bisa mendoakan yang terbaik untukmu,” kataku menanggapi permintaannya yang bertolak belakang dengan hati yang diri ini rasakan kala itu.
Dan seketika itu juga diri ini mengajukan permohonan kepada sang Ilahi “Ya Tuhan, jagalah hati ini, aku tidak ingin mengotorinya, karena aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya dan janganlah Engkau membuat keadaan ini bertambah buruk lagi,” pinta diri ini dalam hati.
Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya sisi lain dari hati ini menginginkan Indra tak hanya sekedar sahabat ataupun teman belaka, walau segala asa untuk itu, harus diri ini tepis dan menutupi tanpa sepengatahuannya. Karena yang diri ingini Indra tak mengetahui segala apa yang diri ini rasa, selain itu diri ini pun menginginkan Indra dapat berbahagia. Dengan atau perempuan lain sekalipun.
Dan untuk menutupi itu semua, diri ini berusaha mengalihkannya dengan segala senda gurau manakala diri ini dan juga dirinya, harus berkutat bersama tentunya dalam pengerjakan tugas kuliah yang masih menjadi kewajiban kami, tak terkecuali. Selain itu, walau berat hati diri ini pun mulai meminimalisir komunikasi yang telah kami bina selama ini, diri ini berharap keadaan ini dapat menjadi lebih baik. Namun hati ini sudah tak bisa lagi berdusta. Perasaan cemburu itu begitu kuat menjajah diri ini, hingga rasa sakit itu mengerang-erang dalam diri. Hingga tak terasa, air mata yang sering kali jatuh membasahi ranumnya pipi ini terus membanjiri, karena meratapi nasib diri.
Tak hanya itu, diri ini pun merasakan kehampaan atas persahabatan yang telah terbina antara diri ini dan juga dirinya. Seperti sayur tanpa garam, tak ada lagi senda gurau bahkan keceriaan yang sering kali kami ciptakan seakan turut musnah secara perlahan. Hal itu diri ini rasakan, sejak Indra mulai mendekati perempuan lain, Ana. Indra pun sudah tak lagi menyediakan ruang untuk persahabatan kami. Perih, seperti luka yang tersiram asamnya cuka dan hanya bulir-bulir air matalah yang menjadi teman penghibur lara. Itulah yang diri ini rasakan, manakala diri ini merindukan masa-masa itu, masa-masa cinta hadir dalam persahabatan kami. Namun diri ini, harus menyimpannya seorang diri karena pada waktu yang bersamaan pula, diri ini harus melakoni peran yang menuntut diri ini untuk tidak mengumbar rasa itu ke publik terlebih lagi kepada dirinya. Hingga suatu ketika, panggung sandiwara dunia ini, mewajibkan kami untuk melakoni peran yang bersama, tentunya masih berkutat dengan dunia kampus.
Tak banyak kata yang terucap, kami saling menyibukkan diri. Seolah tak ada ruang lagi walaupun cuma bertegur sapa. Dan keadaan ini seperti ini semakin membuat diri tersiksa, oleh karena itu diri ini pun berinisiatif untuk memulai perbincangan.
“Ndra, menurutmu bagaimana kehidupan kita kelak ya?”
“Aku percaya, hidupku kelak akan lebih baik lagi, tentunya dengan isteri yang cantik lengkap dengan anak kecil yang ganteng mirip papanya, hahahaha….” Jawab Indra sekenaya.
“Kok bisa seyakin itu?” tanya diri lagi
“Tunggu dulu, kenapa kamu berandai-andai tentang masa depan?”
“Ahhh….nggak ada apa-apa, Cuma berandai dan menerka-nerka masa depan saja,” jawabku sembari menutupi apa yang telah terjadi pada diri ini.
“Jangan-jangan , kamu suka aku ya?”
“Yech…sapa juga yang bakal suka ma kamu,” bela diri ini menutupi padahal sebenarnya diri ini ingin sekali mengatakan iya, tapi sebisa mungkin diri ini membuat mimik muka seakan tak ada jawaban itu dalam raut wajah ini.
“Ahh, nggak usah bohong, aku sudah berpengalaman, kebanyakan teman perempuan yang dekat denganku, mereka mengatakan tidak tertarik dengan ku bahkan malah benci terhadapku. Tapi ujung-ujungnya dia nembak aku untuk ngajak pacaran dengannya, hal itu pernah aku rasakan semasa SMA dulu,”
Tak ingin melanjutkan perdebatan kusir, yang semakin membuat luka hati ini. Diri ini pun memutuskan untuk pamit undur diri. Tentunya dengan berkilah dengan berbagai alas an yang dapat diterimanya kala itu.
Hari-hari berlalu begitu saja, tak banyak perubahan yang berarti terutama mengenai persahabatan diantara kami, hampa terasa. Namun roda kehidupan terus saja berputar. Hingga suatu ketika, terdengar selintingan kabar angin yang akhirnya sampai ke telinga ini.
“Rin, kamu dah tahu khan kalau sekarang Indra dah jadian dengan Ana, anak fakultas teknik lho,” celetuk Ingga salah satu teman Indra yang juga merupakan teman diri ini.
“Mereka pasangan yang serasi ya? Indra cakep, ana juga termasuk wanita yang manis, jadi iri pasangan baru itu,” tambah Ingga.
Ternyata kabar angin itu serta firasat diri ini, benar adanya. Bagaikan tersambar petir di tengah panasnya terik matahari, diri ini sontak kaget tertegun akan news yang diri ini dapati dari seorang teman. Saat itu, badan terasa lemas, gontai tak bertuan, namun sebisa mungkin, diri ini harus segera mengenakan topeng kebahagiaan seakan turut berbahagia untuk Indra, walau pada saat itu rasanya air mata ini sudah tak dapat lagi diri bendungi.
Butuh waktu yang cukup lama, untuk menenangkan hati dan juga batin ini. Hingga diri ini pun berusaha mendekatkan diri kepada Sang Ilahi untuk meminta pertolongannya. Agar dapat penyakit hati yang sedang meradang dalam diri ini, dapat terobati. Namun semakin giat diri ini mengaji bahkan shalat qiyamul lail sering pula diri dirikan pada setiap malam-malamnya. Diri ini semakin sadar pula, bahwa sesungguhnya diri hanyalah manusia biasa.
Seakan dituntun oleh Sang Maha Kuasa, diri ini pun memulai ambil keputusan final, meskipun berat hati untuk memulainya.
“Biarlah rasa indah ini hanya diri ini yang merasa, walau tak balasan darinya. Karena aku tak ingin rasa ini berubah jadi benci. Aku akan tetap menjadi sahabatmu walau persahabatan yang akan terjalin di masa mendatang tak akan seindah dulu,”
Rumah Putih, 1 Oktober 200

Tinggalkan komentar »

Sepenggal Doa Malam

Usia perempuan itu tak lagi muda, bahkan telah melewati dari sepertiga abad. Namun cinta dan kasih sayang yang ia curahkan tak pernah berubah. Telah ratusan hingga ribuan hari telah ia lalui, namun jemari itu seakan tak mengenal lelah, mengusap kepala sang buah hati manakala akan mengantarkannya ke alam mimpi. Tak hanya itu badannya yang telah rapuh di makan usia, tak henti-heninya memberikan kehangatan walau cuma sebuah dekapan kasih sayang.

”Nyenyakkanlah tidur kalian malam ini. Biar dirimu kuat esok hari,”

”Kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari,”

”Untuk itu, mintahlah kalian dalam doa Sang Ilahi Rabbi untuk diberi kekuatan di esok harinya,” Pengantar tidur yang tak pernah lupa disampaikan perempuan paruh baya itu untuk ketiga buah hatinya Ahmad, Rini serta si Ami si bungsu pada tiap malamnya.

”Iya, Bunda,” sahut Rini dan Ami. Maka serta merta pula bibir mungil kedua bocah pun melantunkan doa tidur. Sedangkan Ahmad, putra sulungnya sudah terlelap terlebih dahulu.

Setelah merasa yakin bahwa ketiga buah hatinya tertidur pulas dalam balutan hangat doa dan mimpi yang menemani. Perempuan kelahiran Pulau Garam ini, perlahan-lahan mulai melangkah pergi hingga kakinya pun terhenti pada sebuah meja di salah satu sudut rumahnya. Setelah lama terpaku diam dan cukup lama berdiri, ia sandarkan badannya pada sebuah kursi tua yang tak berada jauh dari meja makan itu.

Lama perempuan itu mematung bahkan tanpa disadari, air mata Tutik, Ibu dari Ahmad, Rini dan Ami terjatuh membasahi keduanya pipinya yang telah keriput dimakan usia. Pikiran Ibu dari ketiga anak itu pun semakin kalut, tak kuasa menahan badai masalah yang menghujani dirinya tiada henti. Di tengah pasang surutnya perekonomian rumah tangga yang Tutik bangun bersama pria yang dipilihnya untuk dijadikan sandaran hidup berbagi keluh kesah, pergi meninggalkan dirinya dan ketiga permata hatinya. Disisi lain, keluarga besar Tutik menuntut rumah tangga yang dibina bersama Mohammad Idris suaminya, harus sederajat dengan sanak family yang telah mapan perekonomiannya.

Walau malam tak lagi bersahabat, karena dinginnya udara semakin menusuk rusuk tulang akan tetapi pikiran perempuan itu terus berkelana, mengira-ngira keberadaan sang imamnya kini. Karena disaat seperti ini, Tutik sangat membutuhkan imamnya untuk mendampingi dirinya menghadapi ujian hidup.

”Masih ingatkah, dirimu Mas dengan ketiga cinta kita,”

“Tak hanya aku yang merindukanmu, mereka juga sering menanyakan keberadaanmu,”

”Bukan hanya materi yang mereka butuhkan, tapi nafkah batiniyah yang seharsnya kamu penuhi pada mereka,”teriak Tutik dalam hatinya.

Sudah kesekian kalinya, kalimat itu terlontar dari bibir merah Tutik, di setiap malam – malamnya tak terkecuali malam ini. Serentetan kalimat yang mewakili kerisauan hatinya. Tak kuasa menahan, hingga air mata yang menjadi obat pelipur lara pun semakin deras mengalir. Batinnya terluka, begitu pula raganya, jenuh memikirkan kondisi rumah tangganya. Lamunan Tutik pun serta merta mengantarkannya untuk mengingatkan kembali akan kata – kata yang dilontarkan suaminya, Idris. Sesaat sebelum lelaki berkulit sawo matang itu benar – benar pergi mengikuti nafsu duniawinya.

”Aku akan buktikan pada keluarga besarmu, bahwa kita juga bisa hidup layak seperti yang lain. Apapun caranya,” ucap pria asal Kota Pahlawan itu.

”Termasuk berjudi?”

”Istighfar Mas, jangan sampai dirimu melangkah di jalan yang tidak diridhai Ilahi,”

”Tegakah dirimu, menafkahi anak dan istrimu dengan barang yang haram?” tanya tutik, seraya mengingatkan sang imam bahwa dirinya telah keliru mengambil jalan.

”Sudahlah, tahu apa dirimu tentang semua itu,”

”Yang terpenting segala kebutuhanmu, sudah aku penuhi,”

”Jaga anak – anak dengan baik, aku pergi dulu,” sanggah pria yang kini telah genap berkepala lima.

Terasa sesak dada Tutik, serasa ada ribuan jarum yang menghujani tubuhnya kala itu. Hatinya sakit, kecewa, sedih, marah, luka, terhina serta ribuan kata kesedihan bersemayam didalamnya. Tutik merasa lelaki yang dicintainya telah berubah 180 derajat. Semasa muda lelaki asal Jawa itu, termasuk remaja yang taat terhadap agama. Perangai dan perilakunya pun tak lepas dari Al Quran dan As Sunnah. Karena itu pulalah, yang menjadi alasan Tutik menerima pinangan Mohammad Idris, yang kini telah menjadi imamnya.

”Aku kira dengan perangai dan lelakumu yang taat pada agama sewaktu dulu, dapat mengantarkanku untuk membina keluarga yang sakinah.

”Ternyata aku salah menilaimu. Justru dirimulah yang menyeret diri ini ke lembah jahanamnya neraka dengan perilakumu yang selalu saja bertentangan dengan agama,”

Mengingat akan hal itu, Tutik merasa dirinya menjadi perempuan yang bodoh, karena selama ini dirinya tertipu dengan perangai dan lelaku suaminya. Tutik pun tak kuasa menahan isak tangisnya. Buliran air mata terus saja keluar dari sendu matanya. Walau tak cukup keras, desah tangis Tutik terdengar. Namun hal itu sudah cukup menggangu, tenangnya malam lengkap dengan sinar gemintang dan rembulan yang dapat menenangkan hati setiap insan malam itu. Seakan terusik, hingga si Ami, permata hatinya yang ketiga terjaga dari tidurnya yang lelap.

”Ibu napa nangis?” tanya si bungsu sembari menggosok matanya.

”Ngga apa ko Dhe’,”

”Ibu hanya kelilipan, sama seperti Adhe’ waktu kelilipan debu,”

”Adhe’ pasti nangis juga khan menahan perih?”

”Sekarang Adhe’ tidur lagi yah?,” jawab tutik berkilah.

Tanpa perlu diminta lagi, Tutik pun mengantarkan putri bungsunya keperaduan mimpi untuk kedua kalinya di malam yang sama. Dan ketika Tutik merasa yakin permata hatinya telah terlelap dalam tidurnya lagi. Tutik pun beranjak pergi menuju kamar mandi. Tutik merasa tak ada lagi tempat peraduan untuk mengadukan segala derita diri, selain kepada Sang Ilahi Rabbi.

Pikiran Tutik semakin kalut, dadanya pun seakan mau pecah tak sanggup menahan gemuruh masalah yang dihadapinya. Hingga Tutik pun membasahi dirinya dengan balutan suci air wudhu, guna mendirikan Shalat Malam yang selalu menjadi pelabuhan terakhirnya untuk mengadukan segala pergemulan masalah yang dihadapinya kepada Sang ilahi Rabbi.

Bukan harta yang melimpah, bukan juga rumah mewah besertakan perabotan lux’s yang Tutik panjatkan dalam doa disetiap sepertiga penghujung malam setiap harinya.

Melainkan sebuah doa agar Sang Imam, Idris suaminya kembali. Kembali menjadi seorang lelaki yang segala tindak tanduk lelakunya bertumpu lagi pada Al Quran dan As Sunnah. Dan dapat lagi memimpin keluarga tuk menjadikannya keluarga yang sakinah.

Tanpa disadari, suara Adzan Shubuh pun berkumandang, bersamaan dengan selesainya perniagaan yang Tutik minta kepada Sang Khaliq, untuk dijadikan sebagai obat penyejuk di hati. Lalu sesat setelah suara iqomah terdengar, Tutik pun segera mendirikan lagi shalat shubuh dua rakaat, sebagai permulaan harinya. Rutinitas yang sama pun masih dilakoninya. Seakan tak ada badai yang telah memporak-porandakan hidupnya.

“Ahmad, Rini, Ami bangun sayang,”

“Sudah shubuh, saatnya kalian bangun,”

Masih dengan sempoyongan Ahmad dan Rini mulai terbangun pergi meninggalkan bantal guling kesayangan mereka, demi bergegas menunaikan shalat Shubuh. Begitu pula dengan Ami walau belum ada kewajiban untuk dirinya menegakkan rukun islam yang kedua, tapi bocah lima tahun itu turut pula terjaga. Nampaknya, hari itu 12 Rabiul Awal, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Tutik dan ketiga buah hatinya masih melakukan hal yang sama dengan hari – hari sebelumnya. Ahmad dan Rini pergi ke sekolah dan Tutik selalu setia berada di rumah menyelesaikan kewajibannya sebagai Ibu rumah tangga sembari menunggu kepulangan, Idris suaminya.

Namun ada sesuatu yang berbeda, telepon rumah yang sudah jarang lagi berbunyi. Hari itu terdengar nada deringnya, menandakan ada panggilan telepon yang masuk. Sesegera pula, Tutik pergi menuju ruang tamu untuk menjawab panggilan telepon.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara lelaki dari seberang, yang berusaha tegar menutupi kesedihannnya.

“Walaikummussalam Warahmah, maaf ini dengan siapa saya berbicara,” balas Tutik yang turut gusar menerima telpon.

“Saya Mustofa, salah seorang teman Idris suami Anda,” jawab pria itu.

Belum selesai Idris menyelesaikan kalimatnya, Tutik pun langsung menyela menanyakan tentang suaminya. Firasatnya sebagai seorang istri mulai gelisah merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa imamnya.

“Ada apa dengan suami saya,” tanya Tutik cepat.

”Innalillahi wainna ilaihirajiuun, suami Anda, Idris telah berpulang ke haribaan Sang Ilahi. Kepalanya terbentur trotoar karena kecelakaan motor dan mengalami pendarahan otak cukup parah,”

”Pihak rumah sakit, sudah berusaha semampunya. Namun rencana Tuhan berbeda. Sekarang, jenazah berada di RSUD Pelita Harapan. Saya harap anda bersabar dan meneima cobaan ini dengan ikhlas,”

Cukup panjang Mustofa menjelaskan keadaan Idris, namun otak Tutik pun sanggup lagi merespon telepon Mustofa dari seberang sana. Kecuali sepenggal kalimat yang menyatakan bahwa Mohammad Idris, suaminya telah berpulang ke Rahmutullah.

Tutik pun mematung sesaat setelah menerima kabar duka tersebut. Genggam telepon dibiarkannya menjuntai ke lantai rumah. Belum sempat pula bibir mungilnya mengucapkan Innalillahi atas berpulang suaminya, namun kesedihan yang teramat mendalam telah menyelimuti dirinya saat itu. Buliran air mata kesedihan, karena ditinggal oleh sang kekasih hati tak dapat tertahankan lagi. Air mata Tutik pun tumpah ruah membasahi pipinya. Sejenak saraf otak kanannya bekerja memberi perintah untuk Tutik merenung berpikir.

“Apakah ini pertanda dikabulkannya doa yang ia panjatkan di penghujung malamnya?”

Wallahualam

Surabaya 5 April 2009 

5 Komentar »

Mentari Eidelwiess

“Sinarmu memang tak menyilaukan, namun telah meluluhkan hati yang beku ini”

Mungkin memang sudah menjadi tradisi dan kodrat perempuan untuk tetap menunggu. Menunggu pangeran berkuda, yang akan membawanya mengurangi birunya lautan kehidupan. Begitulah pula yang dirasakan Lasi. Seorang perempuan yang umurnya memang tak lagi belia bahkan sudah boleh dikatakan dewasa. namun tak jua, ada kumbang yang mendekatinya walau hanya sekedar singgah untuk mengagumi keindahannya.

Bukan karena ia tak memikat karena bunga desa itu tak lagi ada di pematng sawah yang jauh dari penghisap madu. Justru kini, ia berada dikerumunan taman kumbang, dimana setiap kumbang meahlian masing-masing. tapi apa boleh dikata, pengeran berkuda bahkan sang kumbang tak jua sianggah pada muara hatinya.

“Gimana las, kapan kamu akan memeperkenalkan “teman” mu ke Tante?”

Ouwh, masih belum tante, Lasi masih sibuk dengan tugas kuliah. Jadi belum sempet mikir ke arah sana,” jawab Lasi dengan lihai, manakala keluarga besarnya meanyakan hal yang sam, di setiap pertemuan keluarganya.

Padahal sebenarnya hatinya miris, terpojokkan seakan-akan bunga desa tak jua laku. tapi menit berganti jam jam pun telah tergantikan oleh hari dan seterusnya. namun hal itu tak lagi menajdi barang mewah yang menyita banyak pikiran lagi.

Irama kehidupan terus Lasi lakoni walau tak ada pujangga yang menemani. walaupun disekelilingnya dikerumuni oleh beragam species kumbang namun benar-benar tak ada yang hinggap, hingga hembusan kabara angin terdengar.

” Las lo, pacaran yach ma zaky, deket banget sich,bener-bener soulmete,” ungkap Ingga teman akrabnya di waktu jam-jam kosong kuliah.

“Aah…ngaco kamu. lasi ma zaky cuma temen. kebetulan kami ngambil bidang yang sama di jurusan. jadi mau nggak mau tetep aja berurusan ma dia,” sanggah Lasi datar.

Memang dengan kasat mata, keduanya nampak lebih mirip menjadi sepasang kekasih daripada seorang teman. Keakraban keduanya sangat dekat. namun lagi, tak ada perekat yang mengikat keduanya melainkan sebuah pertalian persahabatan.

Tapi perempuan tetaplah perempuan. Memang sudah kodratnya, ia diciptakan dari tulang yang bengkok. Mersa nyaman jika ada tempat berlabuh, mencurahkan segala keluh kehidupan. Tersanjung karena pujian-pujian kecil, merasa nyaman karena ada yang melindungi.

Begitupula, yang dirasakan  Lasi. Bak hangatnya mentari pagi. Sesosok pria berdarah jawa bernamakan Zaky seakan telah memberika aura baru. Walau hanya ada seutas tali tipis persahabatan yang mengikat keduanya. Hidup Lasi ada yang berubah, kadang ia bahagia senyum sumringah pun sering ditemui dalam rona wajahnya, namun tak jarang pula muka sembab karena telah bercucuran air mata di malam harinya karena ulah sang mentari pun sering kali didapati.

Sering pula, Lasi bertanya pada dirinya sendiri, sesering teman-teman-teman kampus yang menanyakan pertalian anatara dirinya dan Zaky. Tapi Lasi tetep keukeh dengan pendirian bahwa saat hanya ada benang tipis yang mengikatkan keduanya, yakni sebuah pertalian persahabatan. karena lagi tak ingin menjadi tupai yang jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Tapi mentari tetaplah mentari, hangatnya sinar mentari yang lembut itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang beruntung, yang selalu terjaga di pagi hari. Sekejap memang kehangatan itu terasa, namun ia menyimpan seribu bahasa kelembutan. Mentari yang menggantikan bulan yang tak lagi bercahaya karena gelapnya malam yang menyelimuti.

Walau demikian adanya, lasi tetap merasa bersyukur, walau hanya dapat bersahabat dengan Zaky, sang mentari paginya. Karena setidaknya (Lasi, Red) benar-benar tak sendiri lagi.

“Mentari pagi,
eidelwiess tetap menunggu pagi sinarmu.
walau itu hanya sekejap diri rasakan tapi itu bermakana,
diri ini pun berharap, sinar mentai itu tak menguap begitu saja,  hingga diri ini tak lagi menjadi eidelwiss yang lagi sendiri”

Tinggalkan komentar »