Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

Perempuan Sahabatku

pada Maret 3, 2010

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhdapnya.
Cinta adalah ketika dia tak mepedulikanmu, namun masih menunggunya dengan setia.
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain, akan tetapi kamu masih bisa tersenyum seraya berkata “Aku turut berbahagia untukmu”
Dan cinta adalah alasan mengapa aku menangis saat ini…..
Awalnya tak ada hubungan yang teristimewa yang terjalin antara diri ini dengan dirinya. Kami hanyalah sepasang anak manusia yang sedang merajut sebuah benang atas nama persahabatan. Tanpa disadari, diri ini dan juga dirinya merasa nyaman satu sama lain. Hingga tak jarang pula, perbincangan ringan membumbui persahabatan kami. Mulai dari membahas perkuliahan yang sedang kami jalani dan seputar seluk beluk kehidupan ataupun perbincangan ringan yang tak berpangkal hingga candaan kecil yang sering kali membawa kami tertawa terpingkal-pingkal. Dan kebersamaan tersebut terus berlanjut, hingga kami serasa lebih dekat. Bahkan bukan hanya sekedar sahabat, itulah anggapan yang sering kami dapati, bagi orang-orang yang baru mengenal kami bahkan curiga tak beralasan sering kami dapati dari teman-teman di kampus.
“Eh,lo pacaran ma Indra yach?,” Tanya Inggrid kepada diri ini di sela-sela jam kuliah yang kosong.
“Jangan ngawur, Rini dan Indra cuma teman aja, nggak ada bedanya dengan teman yang yang lain kok ,” jelas diri ini.
Tapi diri ini pun sempat merasakan keganjalan, karena pada saat kalimat itu telah terucap bahwa Indra hanyalah seorang teman ataupun sahabat. Relung hati ini seakan berontak, menolak apa yang telah terucap. Namun tetap saja, diri ini tak pernah menghiraukannya.
Waktu pun terus berjalan, dan tak pernah ada kata berhenti walau sejenak. Begitu pula, dengan persahabatan yang telah diri ini jalin dengan Indra. Di kampus, Indra termasuk tipe orang yang tidak membeda-bedakan teman. Walaupun, Indra termasuk salah satu mahasiswa yang berperangai menarik dikalangan mahasiswi, bahkan tak ada gadis yang tak akan tertarik kepadanya. Selain itu, perangainya yang tinggi seakan menambah aura ketampanannya. Terlebih lagi sikapnya yang ramah tentunya semakin membuat perempuan terkesima akan kebaikan yang diberikan. Sebagai sahabat yang baru diri ini kenal kurang lebih tiga tahun ini, rasanya diri ini cukup bangga terhadap dirinya, walaupun sering kali ini rasa iri terhadap dirinya pernah singgah, walau hanya sebagai teman.
Terlepas dari daya tarik yang dimiliki Indra, diri ini seakan terlena, karena diri ini pun sudah tak lagi mempedulikan kabar angin yang telah merasuk di otak teman-teman kampus tentang diri ini dan juga dirinya. Seperti telah dibius dengan heroin, diri ini pun tak lagi sadar, ternyata yang diri ini hadapi adalah jurang curam yang telah siap menjatuhkan diri ini ke lembah kepesakitan. Dan hal itu, mulai diri ini rasakan manakala Indra mulai bercerita tentang perempuan lain yang mendekati dirinya. Awalnya, diri ini menganggapnya sebagai bualan belaka tapi lambat laun, terasa luka diri rasakan tapi diri ini pun tak tahu bagian mana yang tersayat luka itu.
“Rin, aku baru PDKT dengan Uphi nih. Dia cantik lho, anak fakultas Teknik pula, anak angkatan baru sich”
“Aku cuma bisa nyaranin hati-hati, ngejaga hati itulah yang penting, jangan main-main dengan anak orang” pintaku pada Indra.
“Nyantai aja, cuma tahap penjajakan, belum tentu juga bisa nyambung dengan dia,” tegas Indra membela diri.
“Tapi, ada yang lebih menggoda lagi Rin, ada temen kostnya Lia minta kenalan, ya udah aku iya kan aja ajakannya,”
“Dasar cowok,” gerutu diri ini kesal.
“Kok bisa-bisanya seperti itu?”
“Yang penting aku nggak ngapa-ngapain, kami cuma berteman kok, beda lagi kalo aku sudah ngejalanin hubungan dengan seseorang, aku pasti bakal serius ngejalaninnya” belanya lagi.
“Terserahlah,” diri ini pun segera meninggalkan Indra tuk mengakhiri pembicaraan yang semakin menjemukan.
Perselihan kecil seperti itu seringkali terjadi, manakala Indra sudah mulai mengadu tentang perempuan yang berusaha mendekatinya. Tapi tak berlangsung lama, kami pun dapat kembali berbaikkan seakan tak ada masalah yang telah terjadi.
Perputaran waktu pun terus melaju ke masa depan dan tak dapat dihentikan lagi keberadaannya. Akan tetapi pergolakan hati ini terus saja merajai diri ini. Ya, semula diri ini beranggapan bahwa diri ini dapat bersahabat dengannya tanpa melibatkan perasaan ketertarikan antara perempuan dengan laki-laki pada umumnya. Diri ini mengira akan tetap sama dapat mengerti dirinya, karena telah banyak hal yang pernah kami alami bersama namun rasa pesakitan yang abstrak itu masih sering kali diri ini dapati. Untuk itu, diri ini pun dengan sekuat tenaga untuk meredakan pergolakan hati ini. Tapi, segala usaha itu, nampaknya sia-sia belaka. Mula-mula diri ini turut merasakan kegembiraan, ketika dirinya gembira manakala bercerita tentang perempuan lain, matanya begitu berbinar dan bercahaya, seakan turut memberikan ruh baru dalam hidupnya. Namun semakin lama, rasa simpati ini berubah arah menjadi cemburu. Dan diri ini tak bisa melihat dirinya gembira, diri ini benar-benar cemburu terhadapnya.
“Rin, kamu tahu nggak, rasanya hatiku dah condong ma teman kostnya Lia, si Ana,”
“Yach, walau sampai sekarang aku masih belum tahu persis gimana wajahnya dan perilakunya, tapi dengan komunikasi yang sering aku lakuin dengannya walau cuma sebatas sms aja, rasanya hati ini dah klop,”
“Aku dah nggak sabar pengen ketemu dengan perempuan yang satu ini, Rin, tolong doakan aku yah!!!”
“Kalau yang ini, aku dah merasa klop aku janji nggak bakal main-main lagi dengan yang namanya perempuan” cerita Indra di sela-sela pengerjaan tugas besar kami.
“Ouwh, syukurlah kalau begitu, aku cuma bisa mendoakan yang terbaik untukmu,” kataku menanggapi permintaannya yang bertolak belakang dengan hati yang diri ini rasakan kala itu.
Dan seketika itu juga diri ini mengajukan permohonan kepada sang Ilahi “Ya Tuhan, jagalah hati ini, aku tidak ingin mengotorinya, karena aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya dan janganlah Engkau membuat keadaan ini bertambah buruk lagi,” pinta diri ini dalam hati.
Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya sisi lain dari hati ini menginginkan Indra tak hanya sekedar sahabat ataupun teman belaka, walau segala asa untuk itu, harus diri ini tepis dan menutupi tanpa sepengatahuannya. Karena yang diri ingini Indra tak mengetahui segala apa yang diri ini rasa, selain itu diri ini pun menginginkan Indra dapat berbahagia. Dengan atau perempuan lain sekalipun.
Dan untuk menutupi itu semua, diri ini berusaha mengalihkannya dengan segala senda gurau manakala diri ini dan juga dirinya, harus berkutat bersama tentunya dalam pengerjakan tugas kuliah yang masih menjadi kewajiban kami, tak terkecuali. Selain itu, walau berat hati diri ini pun mulai meminimalisir komunikasi yang telah kami bina selama ini, diri ini berharap keadaan ini dapat menjadi lebih baik. Namun hati ini sudah tak bisa lagi berdusta. Perasaan cemburu itu begitu kuat menjajah diri ini, hingga rasa sakit itu mengerang-erang dalam diri. Hingga tak terasa, air mata yang sering kali jatuh membasahi ranumnya pipi ini terus membanjiri, karena meratapi nasib diri.
Tak hanya itu, diri ini pun merasakan kehampaan atas persahabatan yang telah terbina antara diri ini dan juga dirinya. Seperti sayur tanpa garam, tak ada lagi senda gurau bahkan keceriaan yang sering kali kami ciptakan seakan turut musnah secara perlahan. Hal itu diri ini rasakan, sejak Indra mulai mendekati perempuan lain, Ana. Indra pun sudah tak lagi menyediakan ruang untuk persahabatan kami. Perih, seperti luka yang tersiram asamnya cuka dan hanya bulir-bulir air matalah yang menjadi teman penghibur lara. Itulah yang diri ini rasakan, manakala diri ini merindukan masa-masa itu, masa-masa cinta hadir dalam persahabatan kami. Namun diri ini, harus menyimpannya seorang diri karena pada waktu yang bersamaan pula, diri ini harus melakoni peran yang menuntut diri ini untuk tidak mengumbar rasa itu ke publik terlebih lagi kepada dirinya. Hingga suatu ketika, panggung sandiwara dunia ini, mewajibkan kami untuk melakoni peran yang bersama, tentunya masih berkutat dengan dunia kampus.
Tak banyak kata yang terucap, kami saling menyibukkan diri. Seolah tak ada ruang lagi walaupun cuma bertegur sapa. Dan keadaan ini seperti ini semakin membuat diri tersiksa, oleh karena itu diri ini pun berinisiatif untuk memulai perbincangan.
“Ndra, menurutmu bagaimana kehidupan kita kelak ya?”
“Aku percaya, hidupku kelak akan lebih baik lagi, tentunya dengan isteri yang cantik lengkap dengan anak kecil yang ganteng mirip papanya, hahahaha….” Jawab Indra sekenaya.
“Kok bisa seyakin itu?” tanya diri lagi
“Tunggu dulu, kenapa kamu berandai-andai tentang masa depan?”
“Ahhh….nggak ada apa-apa, Cuma berandai dan menerka-nerka masa depan saja,” jawabku sembari menutupi apa yang telah terjadi pada diri ini.
“Jangan-jangan , kamu suka aku ya?”
“Yech…sapa juga yang bakal suka ma kamu,” bela diri ini menutupi padahal sebenarnya diri ini ingin sekali mengatakan iya, tapi sebisa mungkin diri ini membuat mimik muka seakan tak ada jawaban itu dalam raut wajah ini.
“Ahh, nggak usah bohong, aku sudah berpengalaman, kebanyakan teman perempuan yang dekat denganku, mereka mengatakan tidak tertarik dengan ku bahkan malah benci terhadapku. Tapi ujung-ujungnya dia nembak aku untuk ngajak pacaran dengannya, hal itu pernah aku rasakan semasa SMA dulu,”
Tak ingin melanjutkan perdebatan kusir, yang semakin membuat luka hati ini. Diri ini pun memutuskan untuk pamit undur diri. Tentunya dengan berkilah dengan berbagai alas an yang dapat diterimanya kala itu.
Hari-hari berlalu begitu saja, tak banyak perubahan yang berarti terutama mengenai persahabatan diantara kami, hampa terasa. Namun roda kehidupan terus saja berputar. Hingga suatu ketika, terdengar selintingan kabar angin yang akhirnya sampai ke telinga ini.
“Rin, kamu dah tahu khan kalau sekarang Indra dah jadian dengan Ana, anak fakultas teknik lho,” celetuk Ingga salah satu teman Indra yang juga merupakan teman diri ini.
“Mereka pasangan yang serasi ya? Indra cakep, ana juga termasuk wanita yang manis, jadi iri pasangan baru itu,” tambah Ingga.
Ternyata kabar angin itu serta firasat diri ini, benar adanya. Bagaikan tersambar petir di tengah panasnya terik matahari, diri ini sontak kaget tertegun akan news yang diri ini dapati dari seorang teman. Saat itu, badan terasa lemas, gontai tak bertuan, namun sebisa mungkin, diri ini harus segera mengenakan topeng kebahagiaan seakan turut berbahagia untuk Indra, walau pada saat itu rasanya air mata ini sudah tak dapat lagi diri bendungi.
Butuh waktu yang cukup lama, untuk menenangkan hati dan juga batin ini. Hingga diri ini pun berusaha mendekatkan diri kepada Sang Ilahi untuk meminta pertolongannya. Agar dapat penyakit hati yang sedang meradang dalam diri ini, dapat terobati. Namun semakin giat diri ini mengaji bahkan shalat qiyamul lail sering pula diri dirikan pada setiap malam-malamnya. Diri ini semakin sadar pula, bahwa sesungguhnya diri hanyalah manusia biasa.
Seakan dituntun oleh Sang Maha Kuasa, diri ini pun memulai ambil keputusan final, meskipun berat hati untuk memulainya.
“Biarlah rasa indah ini hanya diri ini yang merasa, walau tak balasan darinya. Karena aku tak ingin rasa ini berubah jadi benci. Aku akan tetap menjadi sahabatmu walau persahabatan yang akan terjalin di masa mendatang tak akan seindah dulu,”
Rumah Putih, 1 Oktober 200


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: