Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

Amazing Trip From 06…

Ntahlah…keedanan temen-temen Fisika tepatnya angkatan 2006 kumat lagi. Mungkin ini efek dari shok terapi yang kami terima beberapa hari yang lalu. Yang kemudian dilanjutkan dengan jadwal presentasi…Biasalah, shok terapi pada saat-saat kuliah, ujian yang tepatnya UAS.

Keedanan Kami bersamaan dengan diresmikannnya jembatan nasional Suramadu-Surabaya Madura (Bukan Surabaya-Madiun lho yach)…Sehingga tak pelak pula, kami pun untuk memutuskan trip keedanan kami untuk menelusuri Jembatan Suramadu. Apalagi,sebelumnya kami telah di iming-imingngi video amatiran dari sebuah perjalanan segerombolan anak manusia tak bertuan di angkatan kami yang telah lebih dahulu melakukannya, yakni Komteng, Iwan, Dias dan Nailul(Nailul Fis 07).

Dan setelah cukup lama berunding serta bernegosiasi untuk meloba-lobi siapa saja para narapidana yang akan mengikuti perjalan ini. Kami pun memutuskan untuk kumpul di basecamp lama, yakni parkiran MIPA (basecamp sebelum pengkaderan 422 dimulai saat pagi harinya pada tahun 2006 silam). Yach…Yach…Yach…seperti biasa, namanya juga Indinesia, jam karet pun berlaku untuk kami. Awalnya kami sepakat kumpul jam 09.00 WITS. Tapi kami baru kumpul dan siap melanjutkan perjalanan keedanan kami tepat pukul 10.11 WIB.

Rute perjalanan kami dimulai saat kami keluar dari pintu utama Kampus Perjuangan (Baca: ITS CAK) kemudian menelusuri setapak demi setapak jalan Mulyosari hingga daerah Kenjeran, yang juga base Pertama yang kami singgahi saat trip edan ini. Tapi namanya juga trip edan, padahal sebelumnya udah dikomando untuk lewat Mulyosari tapi tetep aja ada yang buandel tidak patuh ma komandan, ada yang menyalahi aturan trip hingga mereka tiba terlebih dahulu di pintu masuk Suramadu untuk arah Surabaya. (Biarlah mereka menunggu disana hingga kedatangan narapidana yang patuh ma komandan pun tiba…Wk…wk…wk…).

Setelah para narapidana komplit di base pertama, kami pun melanjutkan trip edan ini dengan menelusuri jalan tikus yang ada untuk sampai ke tujuan utama kami yakni Suramadu. Tak kurang tiga puluh menit kami pun telah tiba di pintu utama Suramadu. Busyettt….Uantreeee!!! (Itulah kalimat pertama yang keluar dari mayoritas para narapidana trip edan ini).

Namanya juga trip edan, tak peduli halangan serta rintangan yang membentang, kami pun terus melaju. Di sela-sela kemacetan yang menggila yang juga berpayung terik sinar matahari, kami pun enjoy aja untuk melakukannya. Padahal saya tahu, di relung hati mereka yang tak bisa berbohong akan berkata: Puanas Rekk!!! G kuat nich… (Bener khan kawan???).

Dan untuk menghilangkan kejenuhan itu, maka bayolan konyol pun tercipta seakan mengingatkan masa lalu…
“Khan udah biasa di PP pas waktu pengkaderan, jadi ilmunya mesti diterapin hari ini yach???” ucap si Duduts yang juga selalu di sumbangi dengan tawanya yang cengengesan.
Dan bagi para narapidana lain yang turut mendengarkan hanya tertawa kecut karena menahan terik matahari yang sudah menggosongi kulit kami. (Saya yakin, sebenarnya mereka ingin tertawa lepas, karena kelucuan dari ocehan si Duduts tapi apa daya, terik sang mentari seakan membuat masam raut muka dari setiap narapidana, bener khan???)
(Duduts jangan kecewa yach….)

Hhhhhh….Waktu terus berputar, terik matahari pun terus meninggi yang sebanding dengan tingginya suhu udara yang kami rasakan waktu itu. Peluh dan keringat dari setiap narapidana pun terus menetes membasahi seluruh raga. Polusi udara pun turut masuk ke saluran pernafasan kami bersama dengan sisa-sisa oksigen yang dapat kami hirup waktu itu. Tapi motor kami tak dapat melaju kencang lagi, bahkan kecepatannya pun dapat terkalahkan oleh larian anak kecil, karena padatnya kendaraan roda dua yang saling berdesakan di jalur yang kami lalui. 5 menit telah berlalu, kami hanya bisa bergerak setengah meter dari posisi semula. Begitu pula yang kami rasakan di menit-menit selanjutanya.

Kami para narapidana seakan lelah, patah arang sebelum berjuang menaklukkan jembatan yang hanya berjarak 5.4 Km ini. Tapi itu juga yang dirasakan oleh pengendara yang lain. Hingga dua narapidana kami harus gugur karena tak sanggup bertahan di medan perang untuk menaklukkan Jembatan Suramadu, Yakni Hamidhah dan Aberta…tapi tak selang cukup lama setelah Hamidhah dan Aberta mundur, keganasan tiap pengendara telah dimulai, mereka tak tahan lagi untuk bersabar di tengah terik matahari. Hingga para pengendara itu saling gotong royong mengangkati motor mereka ke lajur tengah…(Busyett dah,,,,nich orang nekat banget yach??)
Dan dengan keganasan itu pula, kemacetan pun sedikit berkurang, dan kami para narapidana dapat menikmati hasilnya. Motor kami dapat melaju dengan kencang kembali, walau tak sekencang angin tornado. tapi syukur alhamdulillah daripada harus berjalan merayap seperti sebelumnya.

Setiap narapidana pun seakan tersihir, melihat hasil peradaban karya manusia di abad ke 21 karena telah berhasil menciptakan maha karya yang telah menguhubungkan dua pulau pada bentang selat yang boleh dikatakan panjang. Keren!!! Ko bisa yach mereka bangun seperti ini???? SubhanAllah…Itulah sedikit cuplikan yang terlontar dari rongga mulut para narapidana di tenga-tengah perjalan yang juga tak pernah lepas berpayung panasnya sinar matahari…

Hingga tanpa mereka sadari bahwa diri dari setiap narapidana telah menapaki bumi garam, yakni Pulau Madura. Motor kami pun terus melaju, walaupun sesekali kami berhenti untuk mencari Base kedua yang nyaman namun tak kunjung bersua. Ratusan bahkan ribuan meter telah dilalui, pemandangan yang kami temui hanya berua bukit tandus dan pematang sawah bahkan ada pula yang tak lagi terawat.

Yups…
Diri ini pun mulai menerima setiap keluhan yang terlontar dari setiap narapidana, diantaranya
“Madura ko panasnya???” ucap Phepeb
“Madura gersang yach???” keluh Lely-Lala
dan tak mau ketinggalan Si Janda pun turut berucap
“Berapa kilometer lagi, kita bisa menemukan peradaban lagi???( Janda ingat, kamu berarti masih punya janji mentraktrir roham lho!!!)
Khan Rohma yang menang tebak-tebakannya….Whahahaha)
“Tibak no Madura seperti ini yach?” tandas Si Guffi…

Terserahlah apa kata mereka…Tapi memang beginilah keadaannya…Walau daerah dengan segala keterbatasannya tapi tetap saja dilirik untuk dikembangkan karena memikili poetensi yang baik…(katanya sich begitu, bener ato nggak..ntahlah)
tapi menurut diri ini, Pulau ini tetap terbaik karena pulau ini yang selalu membuat diri ini rindu, rindu untuk pulang bersua dengan sanak keluarga….

Ok,…
kembali ke cerita trip edan…Perjalan terus berlanjut hingga kami menemukan base kedua yakni di daerah Burneh, tepatnya di sebuah mesjid. Walaupun kami menamakan perjalanan edan, tapi kami tidak ingin menanggalkan kewajiban kami, yakni menunaikan sholat. Tak hanya itu kami juga rehat sejenak menghilangkan dahaga dan juga lelah. Tapi dahaga dan juga rasa lapar yang kami alami belum terobati . Padahal ilmu waktu pengkaderan telah kami terapkan yakni dengan berbagi tiga mangkok bakso ditambah dengan 2 liter air mineral sebagai obatnya untuk 18 narapidana yang tersisa. (Melas banget yach perjalanan ini…Tapi saya rasa setiap narapidana merasakan bahagia karena yang kami inginkan hanya kebersamaan).

Cacing-cacing terus saja meronta, dahaga terus saja menyiksa hingga kering terasa tenggorakan ini. HIngga kami pun memutuskan untuk mencari obat penenang untuk cacing-cacing yang telah memberontak sejak pagi tadi. Mungkin karena nama yang telah kami nobatkan dalan perjalan kali ini, keedan selanjutnya tak ada warung yang dapat menyediakan makanan untuk ke delapan belas narapidana. Karena persediaan mereka telah habis dibeli orang lain. Hingga kami pun bertahan dengan tenaga yang tersisa untuk kembali ke realita, yakni kampus perjuangan.
(Padahal kalo mau nyari ke daerah bangkalan masih ada makanan kok kawan, tapi kalian masihn keukeuh untuk mancari daerah burneh sich…)

Rute yang kami tempuh tetap sama, tapi kami tak lagi berjalan beriringan bersama lagi. Selain terjebak dalam lingkaran kemacetan yang melanda di jembatan Suramadu. Beberapa narapidana yang lain harus mengisi bensin terlebih dahulu (baca: makan+minum).
(padahal kata si Duduts: Kita jangan sampe jatuh di lubang yang sama (baca: terjebak macet lagi), nyatanya kita terjebak lagi) yach seperti biasa, prediksi si duduts lagi untuk ke sekian kalinya meleset…

Setelah menginjakkan kaki kembali di kota perjuangan (baca:Surabaya). Kami perpendar, ada yang pulang terlebih dahulu, adapula yang bertandang sejenak ke rumah seorang kawan hingga kemudian melanjutkan perjalannannya kembali hingga tiba ke kampus perjuangan.

NAMA” NARAPIDANA YANG IKUT TRIP EDAN :

1. Ketua Buron: Medi Andrias Maja
2. Tangan kanan Ketua : Achmad Mirwan H
3. Gengster Cowok: Joko Nugroho
Kurriawan Budhi P
Rian Budhi
Dian Mart S
Ahmad Hijazi
Moh. Herman Eko S
Adi Kurniayan Y
Mohammad Gufron
4. Gengster Cewek: Febie Angelia P
Eri Sri Palupi
Machida Nurul Cholishoh
Nurul Amalia S
Aisha Mei H
Nanda Tri K
Rahardiyanti C
Wahyu A
Anggi Anggraeni
Henyk NW
Nany Lailil I
Anggrek Angraini
Mee….

2 Komentar »