Uniqmanusia’s

Tinta Kecil Luapan Hati Anak Manusia

XL, Aktifkan Ekonomi Camplong

Sekitar tahun 90an, Desa Camplong tak jauh beda dengan desa-desa yang lainnya. Desa kecil itu hanya berhunikan beberapa kelompok kecil saja. Daratannya pun masih asri, jauh dari kata polusi. Bahkan desa yang terletak berseberangan dengan pesisir pantai Camplong ini, segarnya udara masih dapat dihirup dengan bebas. Bahkan sejauh ata memandang, tak banyak yang dapat dilihat selain hamparan sawah yang menghijau dengan padi dan tanaman palawijanya.

Di desa nun kecil itu tak banyak bangunan rumah yang dapat ditemui, karena jarak antar rumah yang satu dengan yang lainnya saling berjejauhan. Sarana transportasi yang ada di desa itu pun minim. Hanya orang yang beruang lah yang memiliki kendaraan motor ataupun sepeda ontel. Karena kebanyakan penduduk didesa ini, masih mengandalkan kekuatan kedua kakinya sebagai sarana transportasinya. Tak peduli harus berapa meter yang akan mereka lalui nantinya.

Rutinitas penduduk kembali hidup ketika fajar mulai terbit di ufuk timur, hingga serta merta pula penduduk desa itu beramai-ramai untuk pergi ke sawah masing-masing dengan membawa cangkul dan bekal secukupnya. Dan bagi mereka yang tak memiliki sawah sendiri, mereka akan bahu-membahu mengerjakan sawah tetangganya. Nilai kegotong-royangan masih sangat kental di desa ini. Seakan tidak pernah mengenal kejenuhan, rutinitas seperti ini terus mereka lakoni hingga petang menjelang.

Begitu cerita salah satu penghuni pribumi desa camplong ini. “Tak banyak rutinitas yang dapat kami kerjakan disini, selain bertani dan mungkin bagi yang punya perahu dia akan melaut yang tapi hasilnya pun tak cukup buat makan anak isteri. Akan tetapi rutinitas masyarakat desa ini mulai bergairah semenjak listrik masuk desa kami. Bersamaan dengan masuknya sarana telekomunikasi di desa ini, mulai dari telepon rumah hingga handphone,” kata Zainal, Mantan Kepala desa, yang telah dua kali menjabat ini.

Desa yang bersebelahan dengan pesisir pantai camplong ini, memiliki geografis yang kurang baik. Sehingga penanaman kabel telepon rumah pun sulit dilakukan. Kebanyakan pemilik telepon rumah adalah mereka yang rumahnya berada di samping jalan raya utama. Begitu pula dengan pemilik handphone, karena pada awal tahun 90an harga sebuah handphone masih mahal. “Awalnya hanya para penduduk yang kerabatnya bekerja sebagai TKI yang memiliki handphone, dan handphone itu mereka dapatkan dari kiriman saudaranya.Rata-rata handphone itu mereka gunakan untuk bertukar kabar dengan sanak saudaranya yang menjadi TKI di Malaysia dan Saudi Arabia,” jelas pria yang telah berusia 86 tahun ini.

Seakan tak ada sekat pembatas antara si kaya dan si miskin. Penduduk di desa yang masih satu wilayah dengan Kabupaten sampang ini, sering kali berbagi, tolong-menolong antar sesama. “satu yang tidak berubah, pangguyuban masyarakat di desa ini masih sangat kental. Masyarakat disini seakan tak pernah merugi, walaupun tetangganya sering kali menyambanginya hanya sekedar meminjam hp guna menanyakan hasil taninya yang dijual di luar daerah pada koleganya,” tandas seorang warga dengan logat Madura yang khas.

Dengan adanya komunikasi dua arah ini, mengejar ketertinggalan dengan desa yang lain mulai terlihat. Geliat perekonomian mulai tumbuh setahap demi setahap. “Tak hanya kami gunakan untuk berhubungan dengan famili, kami juga gunakan untuk memasarkan hasil tani kami ke Surabaya dan sekitarnya,” terang Usman, salah seorang petani jambu air yang telah menjadi tuan di daerahnya sendiri.

Memang tak dapat dipungkiri, bahwasanya dengan adanya handphone walaupun masih belum mendominasi di daerah ini, perekonomian yang dulunya hanya remang-remang ini, kini mulai terlihat geliatnya.
Padahal sebelumnya, perekonomian di desa ini boleh dikatakan redup. Penduduk hanya hidup dengan mengandalkan hasil pekarangan yang tidak seberapa. Walaupun pernah juga hasil bumi mereka melimpah hingga pernah mereka pasarkan ke Ibukota di Kabupaten, namun hasilnya pun tak dapat menutupi kebutuhan hidup mereka. Tapi dengan adanya handphone memberikan kemudahan bagi penduduk setempat.

Dan imbasnya pun semakin dirasakan oleh penduduk desa yang letaknya Kabupaten Sampang ini makin banyak. Awalnya handphone menjadi barang mahal dan kepemilikannya pun hanya orang-orang tertentu, kini mulai dimiliki banyak orang. Seperti menemukan oase di tengah luasnya padang pasir. Dengan harga telepon yang kini bisa dijangkau hampir setiap elemen masyarakat ditambah dengan adanya regulasi pemerintah untuk menurunkan tarif telepon seluler. Sangat memudahkan penduduk desa Camplong untuk melakukan perekonomian guna meningkatkan tarafi hidupnya.

“Alhamdulillah kehidupan kami sekarang berkecukupan. Sekarang kami tidak perlu lagi pulang pergi untuk menawarkan jambu air kami ke Surabaya. Banyak orang yang sudah jatuh hati dengan jambu air dari pekarangan saya. Saat ini rata-rata mereka langsung memesannya via telepon bahkan ada pula yang hanya meng-sms ke hp saya,” terang Usman bangga.

Tak hanya Usman dan petani lain yang merasakan perubahan kemajuan dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong. Hal senada turut dirasakan Kodir. Pemilik Kios isi ulang pulsa yang bernama “Rizki”. Memang kios yang dimiliki Kodir tak cukup luas, hanya berukuran 3×5 m2. Akan tetapi di kios yang hampir seluruh dindingnya di penuhi dengan poster berwarna orange dan biru yang bertuliskan “XL, jangkaun Luas, tarifnya termurah ke semua operator” lengkap dengan Luna maya sebagai bintangnya, setiap harinya Kodir bisa meraup laba kurang lebih Rp 150.000. “Memang hanya voucher isi ulang bebas dan Jempol yang laku disini dibanding dengan yang lainnya. Jadi jangan heran, poster-poster seperti banyak disini,” Ujar Kodir yang telah tiga tahun menekuni usaha jasa isi ulang pulsa ini.

Berjualan jasa pelayanan seperti ini, Kini Kodir mampu menafkahi keluarganya dari hasil laba dari Kiosnya dan juga hasil taninya. Bahkan pemilik nama lengkap Kodir Ali ini sudah bisa memperkerjakan tetangganya yang pengangguran untuk turut menjaga kiosnya. padahal sebelumnya KOdir ak ubahnya dengan kebanmyakan pemuda yang lainnya di Desa Camplong. yang keseharinnya luntang-lantung di jalanan karena tak memilki pekerjaan yang tetap.

Keberhasilan pria yang telah berusia 40 tahun ini juga turut diikuti oleh penduduk lainnya. Karena tergiur dengan keberhasilan KOdir masyarakat di Desa Camplongmulai mengikuti jejak Kodir untuk mendirikan Kios yang serupa.

Memang tak dapat dipungkiri, mayoritas penduduk di Desa Camplong masih didominasi oleh pengguna kartu GSM dari Pt Excelcomindo Pratama atau yang lebih familiar dengan nama XL. Selain karena hasil suara yang dihasilkan lebih jernih dan tarifnya yang juga lebih miring. Menggunakan XL merupakan kepoercayaan. Kepercayaan yang ditaruh masyarakat untuk tetap setiap setia menggunakan XL di telepon selulernya. Salah satunya adalah Usman yag tetap setia menggunakan pro XL selama kurang lebih tujuh tahun guna berkomunikasi dengan sanak famili dan koleganya. “Kami sekeluarga, menggunakan kartu yang sama, XL sinyal jelas untuk adaerah terpencil seperti disini, jadi hubungan jual menjual tetap bisa lancar,” paparnya.

Dengan adanya komunikasi dua arah di Desa Camplong telah memberikan warna kehidupan yang baru. Karena kini di Desa Camplong tak lagi sunyi sepi. Di tengah-tengah negeri ini masih memiliki kurang lebih 180 Kabupaten yang masih berkategori kabupaten tertinggal. Perlahan tapi pasti, penduduk Desa camplong mulai mengejar ketertinggalannya hingga kesejahteraan pun mulai dirasakan penduduk setempat. Tak pelak juga, membawa nama Kabupaten Sampang di masyarakat luas, karena hasil bumi yang telah dihasilkan daerah Camplong telah menjadi icon tersendiri di Kabupaten Sampang. Hal ini dibuktikan dengan adanya logo jambu air yang terletak di pusat Ibukota di Kota Kabupaten Sampang. Karena masyarakat luas telah mengakui keunggulan hasil bumi dari daerah Camplong.

Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik di Kabupaten Sampang menunjukkan angka kemiskinan dan jumlah tenaga penganggueran mulai berkurang. Terlebih dengan hadirnya XL yang telah mendominasi, karena telah dipercaya penduduk desa Camplong tak hanya sebagai sarana komunikasi dengan kerabata tetapi pula difungsikan sebagai stimulus untuk membangkitkan perekonomian di desanya.

Penulis adalah

Siti Makkatur Rohmah
Mahasiswa Fisika
FMIPA ITS

Tinggalkan komentar »

Tulisan Kecil Itu, Akan Abadi….

Seperti biasa….

Beberapa waktu lalu ide iseng itu timbul begitu saja. Hingga diri ini pun beriniasitif untuk bermain dengan kata-kata hingga merangkainya menjadi suatu rangkaian kalimat yang menarik. Sebelumnya diri haturkan bagi rekan-rekan sebuah kata maaph dan terima kasih telah mengisi relung hidup kala itu, sehingga diri ini pun berinisiatif untuk mengabadikannya menjadi sebuah kisah. Dan kisah ini terinspirasi dari seorang teman yang hampir kala itu menyita seluruh raga dan pikiran.

Dan setelah merampungkannya maka diri ini pun berinisiatif untuk mengikutsertakan dalam suatu ajang. Yach….seperti biasa…iseng….

Dan Syukur Alhamdulillah tulisan itu memang akan abadi nyatanya. Hingga nantinya tulisan kecil itu akan banyak dikenang orang banyak. Karena nantinya akan bersanding bersama dengan kisah-kisah lainnya. Yang tak kalah seru, lucu bahkan mungkin memilukannya….

Tulisan kecil itu:

Sobat…..

Diri ini berharap ketika dirimu telah membaca ini, rasa itu akan berubah menjadi lebih baik. Karena sejujurnya diri ini masih mengharapkan dirimu untuk dapat mencintai diri ini.

Sobat….

Entah mulai kapan diri ini menaruh rasa istimewa itu terhadap dirimu. Segala sesuatunya mengalir begitu saja, bahkan panggung sandiwara dunia pun seakan ikut mendukung. Karena selalu meminta kita untuk memainkan lakon kehidupan yang bersamaan, sehingga mau atau tidak diri ini selalu terikat tapi tak mengikat dengan dirimu.

Waktu pun terus berputar tiada hentinya, hingga tiada terasa sudah cukup lama diri ini memendam rasa istimewa itu sendirian. Angan dari diri ini pun terus melambung tinggi akan dirimu dan lamunan akan masa depan yang tergurat dengan jelasnya. Bahkan diri ini mulai berani untuk bermimpi akan kebahagiaan di masa depan dapat diraih bersama dirimu dalam sebuah mahligai perkawinan.

Akan tetapi, kenyataan nampaknya tak mau beriringan dengan khayalan serta mimpi diri ini. Karena di saat diri ini semakin dalam mencintai dirimu, di saat yang sama pula diri ini merasakan bahwa dirimu seakan terus menjauh. Dan itu nampak jelas dari perilakumu bahkan komunikasi diantara kita hampir tak ada lagi.

Oleh karena itulah, rasa itu terus saja diri ini pendam sendirian, sehingga tiada terasa waktu yang berjalan telah cukup lama. Hingga tanpa diri ini sadari bahwa begitu lama pula hari-hari yang telah diri ini lalui dengan tangisan. Dan tangis itu selalu pecah dikala diri ini merindukanmu, dikala dirimu tak mempedulikan adanya diri ini bahkan tangisan yang mengharapkan dirimu mengerti apa yang diri ini rasakan terhadapmu.

Tak banyak yang dapat diri ini perbuat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, karena ada jarak yang semakin lebar membentang. Dan batas diantara kita berdua untuk saling berkomunikasi nampak jelas. Jujur, diri ini semakin tersiksa karena keadaan yang demikian. Hingga timbul keberanian dari diri ini untuk mengutarakannya kepada dirimu. Awalnya diri ini ragu, akan tetapi hati ini seakan tak sepaham dengan pikiran yang kala itu masih menganggap hal itu tak sepatutnya dilakukan.

Keputusan besar telah diambil, diri ini akhirnya mengungkapkan relung hati, walaupun itu terkesan secara implisit, tapi diri ini yakin bahwa tujuan dari pesan singkat itu dapat ditangkap oleh dirimu.

Dalam doa kala itu, diri ini berharap balasan dari pesan singkat itu membawa kabar bahagia. Akan tetapi lagi-lagi kenyataan tak mau sejalan berdampingan dengan harapan diri ini. Sontak diri ini seakan tak percaya akan balasanmu kala itu.

Hingga tanpa sadar bulir-bulir air mata terus mengalir semakin deras dari pipi hingga diri ini tak sanggup lagi untuk membendungnya. Sekujur tubuh pun terasa lemas, gontai tak bertuan hingga diri ini pun merasakan kehampaan dalam hidup. Dan hingga kini kata demi kata itu masih tersimpan dengan baik dalam memori diri.

“Aku masih belum tahu apakah dirimu ataukah dirinya yang akan menjadi jodohku.

Pintaku janganlah berlebihan dan janganlah terlalu berharap.”

Sobat….

Walaupun dirimu telah memperlakukan diri ini sedemikian. Jujur diri ini tak kan marah apalagi membenci dirimu karena semuanya tak sanggup diri ini lakukan. Diri ini juga sadar bahwa tak ada yang teristimewa dari diri ini jika dibandingkan seseorang yang pernah menjadi pujaan dalam hati mu. Tapi pintaku, ijinkan diri ini untuk dapat meneguk buah kebahagiaan dengan mencintai dirimu hingga dirimu dapat merasakan hal yang sama.

Surabaya 10 September 2008

Yach…walaupun kisah itu akan diabadikan dengan kisah yang lainnya. Akan tetapi kisah itu akan menjadi abadi dalam benak diri….InsyaAllah….

Tinggalkan komentar »

Benarkah Diri ini Kalah????

Tulisan kecil ini, semula diri ini tulis untuk mengikuti sebuah ajang perhelatan untuk penulis tentang kepemudaan. Dengan dibantu oleh seorang suhu(Guru)yang senantiasa membantu diri ini untuk memperbaiki hingga menjadi yang terbaik tentunya…..

Tapi apa daya….

Semua tinggal impian…

Ternyata tulisan kecil ini, belum dapat bersanding dengan tulisan yang lainnya…

Tak perlu panjang kata lagi…

Ni, tulisan kecil itu:

Kaum Muda Yang Bertahta

Oleh: Siti Makkatur Rohmah*1

Pemuda bukan sekedar pajangan

Pemuda bukanlah barang dagangan

Karena pemuda adalah aktor utama serial bangsa

Aktor utama yang membasmi kezaliman dan kemusyrikan2

Membicarakan seorang pemuda memang tiada habisnya. Karena pemuda adalah entitas yang tidak terpisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Pemuda adalah milestone peristiwa-peristiwa penting yang dialami bangsa ini. Hal ini disebabkan karena secara psikologis pemuda lebih identik dengan remaja dan dewasa awal, dimana pada tahap perkembangan ini manusia berada dalam tahap peralihan dan cenderung bersifat memberontak. Selain itu para pemuda biasanya memiliki sifat penuh dengan inisiatif, kreatif, cenderung antikemapanan, dan penuh dengan segala intrik yang bertujuan untuk membangun kepribadian. Alasan kedua lebih kepada jiwa yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan, pemuda tidak lagi dibatasi oleh usia dan perkembangan psikologis. Bisa jadi secara fisis seseorang memiliki tubuh yang muda namun secara mental ia berpengalaman dan dapat diadu dengan kaum tua.

Sejarah pun membuktikan, karakteristik unik yang dimiliki oleh pemuda ini diakui atau tidak telah memberikan catatan penting dalam sejarah dunia. Banyak tokoh-tokoh muda yang berhasil mencapai tampuk singgasana kepemimpinan dalam usianya yang belia dan dicatat sejarah dengan tinta emas karena telah memberikan gebrakan baru dan revolusioner.

Diantaranya adalah, pemuda priyayi Kusno Sosrodihardjo atau yang lebih dikenal Soekarno, usianya yang belum genap 45 tahun ketika ia dan sahabatnya, Mohammad Hatta, memproklamirkan kemerdekaan negeri dengan arkipelago terbesar di dunia. Selanjutnya duet maut ini membuat keputusan-keputusan kontroversial yang membuat Indonesia, sebagai negeri yang masih muda, semakin disegani dan dihormati oleh dunia.3

Setelah Soekarno, muncullah nama Soeharto yang juga merupakan seorang perwira muda. Usianya belum genap setengah abad ketika ia dengan strategi cerdas mencoba mengurai masalah politik tanah air yang kusut pasca Gestapu. Namanya pun melejit dan menggantikan Soekarno dalam usia yang masih muda pada 27 Maret 1968. Manuver politiknya yang cerdas –sekaligus kejam dan emosional, khas kaum muda- berhasil menciptakan stabilitas ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Nusantara. Cita-cita pembangunannya yang menggebu juga menjadi milestone penting perkembangan bangsa ini. Mengenai dosa politiknya setelah tiga puluh dua tahun memimpin, itu urusan belakang.4

Di Amerika Serikat, kepemimpinan kaum muda dirasakan salah satunya pada era pemerintahan William Jefferson Clinton alias Bill Clinton, Presiden AS ke-42, yang masih berumur 47 tahun pada 20 Januari 1993. Pada masa pemerintahan Clinton, rakyat AS menikmati perdamaian dan kesejahteraan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan periode manapun dalam sejarah AS. Clinton adalah presiden dari partai Demokrat pertama sejak Franklin D. Roosevelt yang berhasil menjabat selama dua masa jabatan.5

Dalam sejarahnya, perkembangan Islam juga dipenuhi banyak pemimpin muda. Salah satu yang terkenal adalah Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, atau Saladin menurut lafal orang Barat. Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyah yang kekuasannya mencakup Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Nama Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinannya, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat era Perang Salib. Selain pemimpin militer yang disegani, Salahuddin juga adalah seorang ulama dan cendekia yang cemerlang. Beliau banyak memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.6 Tidak dapat dipungkiri, Salahuddin adalah sosok pemimpin yang integral. Ia adalah salah seorang pahlawan besar dalam tarikh Islam, yang bukan hanya dikagumi rakyat dan pasukannya, melainkan juga sangat dihormati musuh-musuhnya. Seperti yang digambarkan dengan apik dalam karya sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott dan naskah film Kingdom of Heaven yang ditulis oleh William Monahan.

Pemuda Indonesia Saat Ini

Bagaimana keadaan pemuda Indonesia dewasa ini? Ironi memang jika harus menjawab pertanyaan tersebut. Karena realitanya mesih sedikit pemuda Indonesia yang masih peduli dengan negaranya. Sebagian besar yang lain, masih terlena dengan arus modernisasi yang memang gilap gemerlap itu.

Memang modernisasi menjadi semacam pedang bermata ganda bagi generasi muda bangsa ini. Sebuah hal yang paradoks, patut disyukuri atau malah suatu hal yang harus ditangisi. Bagi sebagian pemuda modernisasi menjadi lahan untuk mengembangkan diri dan membuat martabat bangsa ini kembali pulih di zaman yang semakin borderless ini. Tetapi modernitas juga menyisakan perilaku-perilaku hedonik yang terlihat sangat keren di hadapan jutaan mata muda negeri ini. Gue banget deh!

Saking silaunya, sebagian pemuda pun terlena. Akhirnya lemas malas tindas terlibas oleh budaya asing yang memang tidak difilter. Bagi sebagian lain yang masih bersuara lantang dan kritis terhadap keadaan pun semakin diasingkan. Teralineasi. Hal ini pun seakan diperjelas, dengan contoh nyata yang yang terjadi di lapangan. Hematnya pemuda bangsa ini dapat dibagi menjadi dua golongan, pertama adalah golongan pemuda yang masih menjaga egonya untuk tetap kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Kelompok lainnya adalah kelompok apatis hedonik yang larut dalam balutan baju ready-to-wear dari Zara atau mabuk dalam dentuman musik house dan trance. Kelompok kedua ini tidak sadar bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat penggangguran terbuka (TPT) pada Februari 2005 saja di Indonesia sudah mencapai angka 10, 3 persen, lebih tinggi dari Agustus 2004 yang hanya sebesar 9,9 persen. Masih banyak yang harus dipikirkan dari sekedar hura-hura.

Selain itu pula, masih adanya jarak pemisah antara pemuda kota dengan pemuda desa, sehingga mereka cenderung kurang peka terhadap negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Berdasarkan data Susenas 2006, jumlah pemuda Indonesia tahun 2006 mencapai 80,8 juta jiwa atau 36,4 persen dari total penduduk, sebuah jumlah yang luar biasa. Komposisinya sendiri terdiri dari 40,1 juta pemuda laki-laki dan 40,7 juta pemuda perempuan. Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, tampak bahwa pemuda yang tinggal di pedesaan jumlahnya lebih banyak daripada pemuda yang tinggal di perkotaan yaitu 43,4 juta berbanding 37,4 juta.

Jika dalam realitanya masih banyak pemuda yang terlena maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda Indonesia saat ini cenderung sibuk memikirkan dirinya sendiri. Sehingga seakan sudah tidak peduli lagi dengan keadaan bangsa dan negaranya. Padahal negara ini membutuhkan para pemuda yang dapat memberikan kontribusi nyata pada negeri ini. Karena pemuda merupakan sekolompok orang yang berada pada garda depan pembangunan bangsa ini.

Tongkat Estafet Kepemimpinan Selanjutnya

Salah satu ciri kepemimpinan kaum muda adalah berani membuat gebrakan, tanpa harus terlalu dipusingkan oleh seberapa besar risiko yang akan ditanggung kemudian. Hal inilah yang pada gilirannya memang seringkali memunculkan penilaian negatif bahwa kaum muda cenderung grasa-grusu, sedangkan kaum tua lebih bijaksana. Padahal, penilaian semacam itu bisa dibalik dengan melihat sisi positifnya. Misalnya, kecenderungan itu menunjukkan bahwa kaum muda lebih cepat merespon dan mengantisipasi masalah yang timbul dibandingkan kaum tua.

Sekedar berkaca pada sejarah masa lalu, Soekarno dengan usianya yang relatif muda telah yang menganut ideologi pembangunan ”berdikari” atau berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno muda yang gagah dengan gingsul manis di senyumnya itu dengan gagah mengejek Amerika Serika; go to hell with your aid! Melambangkan semangat muda mandiri yang bergelora.7

Mungkin bagi sebagian orang yang ada pada masa itu, tindakan yang dilakukan Soekarno kurang rasional. Akan tetapi berkat ini pula, yang mengobarkan semangat revolusi bangsa ini serta beberapa negara berkembang lainnya serta merta mengantarkan bangsa ini mencicipi manisnya hidup yang sejahtera.

Ciri kepemimpinan kaum muda lainnya adalah, memiliki integritas yang mendalam dan mengagumkan. Para pemimpin muda selalu punya komitmen tinggi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat tanpa embel-embel syarat dan prasyarat yang mengarah kepada kepentingan pribadi. Agak aneh memang, sejarah mencatat; dibandingkan dengan kaum tua, lebih banyak kaum muda yang terbukti ikhlas dalam memperjuangkan kepentingan umum (baca: bangsa).

Para pemimpin muda biasanya juga relatif lebih tidak terikat pada masa lalu ketimbang kaum tua. Hal itu menyebabkan kaum muda lebih leluasa melakukan gebrakan perubahan tanpa harus terkungkung rasa ewuh pakewuh. Dalam kaitan itu, pemimpin yang berasal dari kalangan kaum muda relatif lebih innocent dan bersih dari dosa masa lalu sehingga lebih dapat diharapkan mampu melakukan kerja-kerja perubahan ke arah perbaikan.

Para pemimpin muda yang muncul ke publik biasanya juga merupakan pribadi-pribadi terpilih yang memiliki keunggulan komparatif yang tidak biasa. Maka pastilah para pemimpin muda pasti bukanlah seorang tokoh yang muncul secara tiba-tiba alias pemimpin karbitan. Ia pastilah tokoh yang memang layak menjadi pemimpin dengan pengalaman luar biasa di belakangnya. Ditempa oleh berbagai pengalaman dan ujian yang kemudian meloloskannya ke kancah publik.

Usianya boleh muda, tetapi pastilah kata perjuangan telah hadir dalam kamus hidupnya jauh lebih dini dibanding orang-orang dari generasinya, bahkan bisa jadi lebih awal dibanding orang-orang dari generasi sebelumnya.

Setelah 10 tahun reformasi bergulir pentas politik nasional masih banyak didominasi oleh nama-nama politisi tua –yang dalam sejarahnya hanya mampu memunculkan kekecewaan baru dan harapan semu tentang keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang tak kunjung terwujud. Maka dengan ini dirasa perlu adanya sebuah bibit baru. Negeri ini butuh sekumpulan pemimpin cerdas dari kaum muda yang segar dan bersemangat.

Apalagi, dalam bukunya yang terbaru Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia, Amien Rais sendiri telah secara gamblang mendukung kepemimpinan kaum muda tersebut.8 Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, pun turut serta mendorong pemuda menjadi pemimpin, namun masyarakat jangan asal memilih pemimpin muda dan hanya melihat dari segi usianya saja tetapi juga harus melihat kemampuannya.9

Pertanyaannya sekarang, bagaimanakah kesiapan kaum muda menyambut sodoran tongkat estafet kepemimpinan bangsa itu? Jawaban untuk pertanyaan itu tentu saja tak cukup hanya dengan kata-kata akan tetapi dengan bukti nyata. Negeri ini membutuhkan suasana baru dalam singgasana kepemimpinan. Karena negeri ini sudah terlalu jengah dengan imperialisme modern yang terus mengakar.

Jika saja, euforia kepemimpinan itu ada di dalam pesta demokrasi mendatang, diharapkan ada beberapa kaum muda dengan wajah yakin dan sumringah yang bertekad untuk memimpin negeri ini. Rakyat tentunya menghendaki adanya angin segar perubahan untuk perbaikan di masa yang akan datang, hingga nantinya tak akan ada lagi jerit tangis ibu pertiwi. Karena tidak lama lagi bangsa ini akan mengulang lagi masa-masa kejayaannya. Semoga.

Referensi :

Brown, Collin. A Short History of Indonesia; The Unlikely Nation. Allen&Unwin: 2003

Rais, Amien. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Mizan & PPSK. Yogyakarta: 2008.

Taylor, Jean Gelman. Indonesia; People and Histories. Yale University Press. 2003

National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008.

http:www.ginandjar.com/public/08KepeloporandanKepemimpinan

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/07/01/brk,20050701-63290,id.html(jumlah data pengangurandi Indonesia)

———–http://id.wikipedia.org/wiki/Bill_Clinton

———–http://id.wikipedia.org/wiki/Saladin

———–http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/

———-http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/26/nas06.html

1 Penulis adalah mahasiswa Fakultas MIPA ITS Surabaya

2 Mengutip sajak Ahlul Badrito Resha (mahasiswa Fak Hukum UGM), http://rito.rumahblog.com/

3 Taylor, Jean Gelman. Indonesia; People and Histories. Yale University Press. 2003

4 Brown, Collin. A Short History of Indonesia; The Unlikely Nation. Allen&Unwin: 2003.

7 National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008.

8 Rais, Amien. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Mizan & PPSK. Yogyakarta: 2008.

9 Disamapaikan pada Pertemuan Senat Mahasiswa Se-Jawa Tengah di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jumat (25/4)

Walaupun rasa kecewa itu pernah ada. Karena tulisan ini belum dapat bersanding dengan tulisan yang lain. Tapi kini diri ini sudah ikhlas menerima….
Karena sejatinya penulis bukan dilihat dari betapa banyak penghargaan yang diraih melainkan berapa tulisan yang pernah ditulis…..

2 Komentar »